Showing posts with label Makam Mbah Priok. Show all posts
Showing posts with label Makam Mbah Priok. Show all posts

Grup Persatuan Pembenci Satpol PP Muncul di Facebook

Group Persatuan Pembenci Satpol PP Muncul di Facebook ; Bisa dilihat dari layar kaca televisi bagaimana satuan polisi pamong praja (Satpol PP) mengeroyok warga yang menolak penertiban. Dapat disaksikan pula bagaimana beberapa anggota Satpol PP dipukuli, dan dibacok oleh warga.

Seorang bapak-bapak dengan muka berlumuran darah digotong ke ambulans. Ada pula anggota Satpol PP yang tersungkur di jalan, tak berdaya, ditendangi, dipukuli dengan kayu, dan dibacok dengan senjata tajam.
Rabu (14/4), bentrokan terjadi antara warga Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara dengan Satpol PP terkait penertiban lahan di Kelurahan Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Kerusuhan terjadi karena warga setempat dan beberapa pihak yang mengaku sebagai ahli waris dari tokoh masyarakat Al Arif Billah Hasan bin Muhammad Al Haddad atau biasa dikenal dengan nama "Mbah Priok" yang mengaku punya hak atas tanah itu.

Jenazah Mbah Priok dan jenazah lain yang tadinya berada di TPU Dobo, Kelurahan Koja, telah dipindahkan TPU Semper karena lokasi di Jl Dobo berdasarkan putusan pengadilan merupakan tanah milik PT Pelindo II. Puluhan orang dari kedua belah pihak luka-luka, dan dilarikan ke rumah sakit terdekat. Bahkan, dikabarkan sudah ada korban tewas.

Keributan 'berdarah' ini menimbulkan reaksi di dunia maya. Tepatnya di situs jejaring sosial Facebook. Muncul grup "Persatuan Pembenci Satpol PP". Hingga berita ini diturunkan, 268 facebookers bergabung menjadi anggota grup ini. Informasi dari grup itu tertulis "Buat kalian yg benci ama SATPOL PP gabung ke grup ini,SATPOL PP itu penindas."

Dilihat dari komentar para pendukungnya, grup ini baru dibuat beberapa jam yang lalu. Salah satu pengemarnya menulis pernyataan yang menyudutkan Satpol PP. "Korban satpol pp hari ini bRtambah lg...kasian banget warga priuk!!sy trut prihatin!!" kata Raymond Gie yang memasang komentarnya 3 jam lalu.

Selain itu, di grup ini juga dipasang 2 foto. Pertama, gambar tentang seorang ibu-ibu berbaju merah dengan kepala berdarah. Satu lagi, ada foto beberapa anggota Satpol PP berbaris sambil membawa tameng, yang dicoret silang dengan warna merah

Misteri Awan Berlafaz "Allah Sebelum Penggusuran Makam Mbah Priok

Misteri Awan Berlafaz "Allah Sebelum Penggusuran Makam Mbah Priok ; Hari masih pagi di kompleks Makam Habib Hasan bin Muhammad Al-Haddad (1727-1756), Koja, Jakarta Utara, Rabu (14/4). Sekitar 200 santri berkumpul di halaman makam guna "menyambut" tamu mereka: 4000 Satuan Polisi Pamong Praja

Karena tamu dianggap hendak menghancurkan kompleks makam keramat, santri mempersiapkan diri dengan berbagai senjata. Mulai bambu runcing, kayu yang dilengkapi paku, celurit, golok dan samurai. Diantara lantunan Shalawat Badar, persiapan perang mereka terhenti oleh teriakan salah satu santri: "Allahu Akbar". Di ufuk timur, terbentang awan berlafaz "Allah".

Dari foto yang direkam dengan kamera telepon genggam, awan itu memang tidak sepenuhnya berbentuk Allah. Lebih menyerupai huruf "w". Tapi penampakan itu cukup untuk membangkitkan semangat penjaga makam. "Kami yakin Allah bersama kami," kata Habib Alwi Al-Hadad, 46 tahun, seorang ahli waris makam kepada Tempo, Kamis (15/4).

Mungkin semangat itu juga yang membuat para santri berani menghadapi penyerang yang jumlahnya 20 kali lebih banyak. Batu-batu yang dilayangkan ke tubuh-tubuh kerempeng itu tidak sedikit pun menyakiti mereka.

Seorang wartawan yang melihat kejadian menuturkan buldozer sempat meruntuhkan tembok di kanan-kiri gapura yang bertulis "Ghubbah Al-Haddad". Namun saat hendak menghancurkan gapura, petugas operator tanpa ba-bi-bu ngacir meninggalkan mesin penghancur itu. Si wartawan sempat mendengar gumaman operator yang mengaku ketar-ketir melihat sosok manusia besar di depan gapura.

"Kesaktian" makam keramat itu bukan isapan jempol. Mbah Priok, begitu penghuni makam dikenal warga, dipercaya sebagai keturunan langsung Nabi Muhammad SAW.

Habib Ali Al-Idrus 38 tahun pengurus makam menuturkan Habib Hasan lahir di Ulu Palembang, Sumatera Selatan pada tahun 1727. Menjelang dewasa, ia belajar agama Islam di Yaman Selatan. Setelah beberapa tahun, Habib Hasan kembali ke Palembang.

Pada tahun 1756, Habib Hasan Al-Haddad pergi ke Jawa bersama Habib Ali Al-Haddad dan 3 orang lainnya. Tujuan mereka untuk menyebarkan agama Islam dan mengunjungi makam pelopor Islam, seperti Habib Husein Alaydrus di Mesjid Luar Batang, Penjaringan Jakarta Utara, Sunan Gunung Jati di Cirebon dan Sunan Ampel di Surabaya.

Di tengah laut, tentara Belanda berupaya menyetop dan menembaki perahu yang mereka tumpangi. Namun tidak ada satu peluru pun yang kena. Setelah dua bulan mengembara, rombongan itu dihantam badai di Pantai Utara Batavia. Badai berlangsung beberapa hari itu dan menghancurkan kapal yang tumpangi. Habib Hasan dan Habib Ali berhasil menyelamatkan diri dengan berpegangan pada perahu yang telah terbalik. Sementara tiga orang anggota rombongan lainnya tewas.

Kedua habib, sebutan untuk keturunan Nabi Muhammad, itu terapung-apung selama 10 hari. Karena lemas Habib Hasan pun meninggal dunia di usia 29 tahun. Sementara Habib Ali bertahan dan menyelamatkan jenazah saudaranya. Mereka terdorong oleh ombak ke pantai sambil diiringi ikan lumba-lumba.

Penduduk pesisir melihat korban kapal karam ini dan memakamkan Habib Hasan. Tempat pemakaman di lokasi yang sekarang adalah Pondok Dayung, Pos 1, Pelabuhan Tanjung Priok. Nama Pondok Dayung diambil dari Bahasa Sunda, dayung pendek. "Nisan kepala dari dayung pendek sisa kapal," kata Habib Ali kepada Tempo.

Sementara untuk nisan kaki digunakan pohon tanjung. Penduduk juga menaruh periuk nasi dari pecahan kapal di makam Habib Hasan. "Sehingga penduduk menyebutnya Tanjung Priuk hingga sekarang," lanjutnya.

Dua puluh tiga tahun setelah pemakaman Habib Hasan, pemerintah Belanda membangun Pelabuhan Tanjung Priok. Mereka berupaya membongkar makam Habib Hasan. "Namun pekerjaan terhenti karena banyak kuli yang mati," kata Habib Abdulloh 36 tahun, abang Habib Ali.

Kemudian pemerintah meminta bantuan seorang Kiai yang dapat berkomunikasi dengan Habib Hasan. Dari situ didapatkan bahwa Habib Hasan minta makamnya dipindahkan jika ingin membangun pelabuhan. "Pemindahan harus seizin adik Habib Hasan, yaitu Habib Zen yang tinggal di Ulu Palembang," kata Habib Abdulloh menirukan permintaan leluhurnya itu. Habib Ali dan Habib Abdulloh adalah keturunan ke 6 Habib Zen.

Habib Zen pun mengizinkan Belanda merelokasi makam abangnya ke Jalan Dobo, Koja. "Saat diangkat jenazah masih seperti baru meninggal," kata Habib Ali.

Pemerintah Belanda menyediakan lahan seluas 7 hektare dan ghubah (bangunan kompleks makam) seluas 16x16 meter. Bangunan dengan atap berbentuk joglo dan berdinding putih ini masih berdiri tegak hingga kini. Di dalamnya, selain makam Habib Hasan, juga terdapat 8 makam anggota keluarga lainnya.

Menurut Habib Abdulloh setiap minggunya, setiap malam Jumat lima ratusan orang menjambangi makam ini. "Mereka menghadiri majelis tadzkir," katanya.

Berbagai kalangan, mulai dari kalangan bawah, artis bahkan petinggi negara seperti Abdurrahman Wahid pernah berkunjung kesana. "Salah satunya adalah SBY 2 bulan sebelum pelantikan (2004)," kata Habib Ali.

Pengunjung kebanyakan tidak diizinkan masuk oleh abang-adik penjaga makam itu. "Harus keturunan Sayid atau Habib (pemuka agama atau keturunan Nabi)," kata Habib Abdulloh.

Namun ketenangan Mbah Priok terus terusik. Pada 22 Desember 2004, PT Pelindo II berupaya menggusurnya untuk perluasan pelabuhan. Upaya gagal itu dikaitkan ahli waris dengan bencana yang menimpa Indonesia. Tiga hari kemudian, tsunami menghantam Aceh.

Menurut kuasa hukum ahli waris, Yan Juanda, Makam Mbah Priok merupakan "pasak bumi" Jakarta Utara. "Saya mohon, jangan ada lagi upaya untuk menghancurkannya," katanya di depan Wakil Gubernur Jakarta Prijanto dan Direktur Utama Pelindo II RJ Lino, Kamis kemarin.

Yan mengatakan, pemerintah dan Pelindo sebaiknya belajar dari sejarah. "Pemerintah Belanda saja minta izin keluarga untuk memindahkan makam," katanya.

Kalau pun pelabuhan perlu berbenah, keberadaan makam keramat tidak perlu digusur. "Di Singapura, arah jalan tol digeser untuk menghormati makam habib," ujar Yan.

Usai dibisiki tentang kekeramatan makam Mbah Priok oleh seorang ulama di Cirebon pada 2005, Yan menyampaikannya ke Fauzi Bowo, yang saat itu Wakil Gubernur. "Dia diminta untuk menjaga makam," kata Yan. Sekarang dia dan para ahli waris menagih janji itu.

Gawat Ada Foto Makam Mbah Priok Rata dengan Tanah

Gawat Ada Foto Makam Mbah Priok Rata dengan Tanah, Pemerintah Provinsi DKI bersikukuh bahwa komplek makam Mbah Priok atau Al Imam Al Arif Billah Al Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad sudah dipindahkan. Pemerintah Provinsi melalui Pelindo memiliki gambar foto udara areal itu sudah pernah rata dengan tanah.

"Bukan saya tidak hormat. Tadi malam saya menghubungi Pelindo. Dan dinyatakan pada 1997 seluruh makam itu sudah dipindahkan ke Semper. Itu ada foto udaranya, makamnya sudah rata," kata Wakil Gubernur DKI Prijanto.

Hal itu disampaikan Prijanto dalam diskusi Apa Kabar Indonesia Pagi tvOne, Kamis 15 April 2010. "Nanti akan kita bawa fotonya dalam rapat".

Menurut Prijanto, pemindahan areal makam juga sudah dilakukan sejak 1995 dan dilakukan kembali pada 1997. Pemindahan makam itu didasarkan atas putusan pengadilan yang menyebutkan lokasi itu milik Pelindo.

"Proses perubahan peruntukan itu juga sudah disetujui DPRD. Karena sudah disetujui, Pelindo membebaskan tanah di Semper untuk lokasi pemindahan makam," ujar mantan Asisten Teritorial Kepala Staf TNI AD ini.

Prijanto menegaskan, apa yang disampaikan itu berdasarkan administrasi dan dokumen yang ada. Maka itu, siang ini sekitar pukul 14.00 WIB akan digelar rapat membahas sengketa makam Mbah Priok.

Sebelumnya, salah satu ahli waris tanah makam Mbah Priok, Habib Salim, meminta Pemerintah Provinsi DKI jangan menyebarkan isu. "jangan bikin isu makam itu kosong, kalau kosong nggak ribuan orang datang," kata Habib Salim dalam diskusi sebelumnya.

Ditambahkan Habib Salim, sepengetahuan dia, yang dipindahkan adalah makam-makam lain di pinggir-pinggir makam Mbah Priok.

Seperti diketahui, dalam bentrokan di komplek makam Mbah Priok, dua anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dilaporkan tewas. Sedangkan sebanyak 130 orang mengalami luka-luka.

Hasil Mediasi Sengketa Kasus Makam Mbah Priok

Hasil Mediasi Sengketa Kasus Makam Mbah Priok ; Proses mediasi antara pihak PT Pelindo, Pemprov DKI Jakarta dan ahli waris telah dimulai. Acara dibuka oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto. Gubernur Fauzi Bowo tidak ikut dalam mediasi tersebut.

hadir dalam mediasi ini Dirut PT Pelindo II, ahli waris Mbah Priok beserta pengacaranya, anggota Dewan Perwakilan Daerah AM Fatwa, Ketua MUI Pusat KH Ma'ruf Amin, Ketua FPI Habib Rizieq, Ketua Kejari Jakarta Utara, Ketua PN Jakarta Utara, Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman Pemprov DKI. Selain itu hadir pula para habaib dan anggota MUI lain.

Acara dimulai dengan pembacaan doa oleh Rizieq yang didaulat oleh Wagub Prijanto untuk membacakan doa sebelum acara dimulai. Acara diselenggarakan di Ruang Pola, Bappeda Balikota DKI Jakarta. Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo tidak ikut dalam mediasi. Foke saat ini bersama Kapolda Metro Jaya Irjen Wahyono sedang berada di lokasi kerusuhan di Koja.Acara dimulai dengan pemaparan Rizieq yang mewakili warga yang menolak penggusuran makam Mbak Priok.


Inilah Hasil Mediasi Sengketa Kasus Makam Mbah Priok
1. Makam Mbah Priok Tidak Akan Di Gusur,makam Mbah Priok agar dicagarbudayakan dengan Surat Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta sebagai situs sejarah Islam Betawi
2. Pemda DKI bersama PT Pelindo II membangun akses khusus ke makam Mbah Priok.
akses jalan yang bisa digunakan menuju ke makam bagi kepentingan para peziarah. Ini amat berguna bagi Pelindo agar aktivitas Terminal Peti Kemas Koja tidak terganggu. Pasalnya, jelas Habib Rizieq, pemerintah pada 2007 pernah mendapat peringatan dari United States Coast Guard (US Coast Guard) soal pelabuhan di Indonesia yang tidak memiliki standar internasional.
3. persoalan tanah seluas 5,4 hektare yang dipertikaikan ahli waris dengan Pelindo. Untuk kasus ini diusulkan agar permasalahan diselesaikan secara kekeluargaan antara ahli waris dan Pelindo. "Selesaikan sampai tuntas, berapa lama pun harus dituntaskan lewat kekeluargaan,


Makam yang Mengubur Standar Keamanan Menjadi Fakta Campur tangan Amerika Terhadap Penggusuran Makam Mbah Priok

Makam yang Mengubur Standar Keamanan Menjadi Fakta Campur tangan Amerika Terhadap Penggusuran Makam Mbah Priok , Tiga orang tewas, ratusan orang terluka, puluhan kendaraan dibakar dalam bentrokan berdarah antara ribuan warga dan aparat Sat Pol PP dibantu polisi di Koja Jakarta Utara, Rabu (14/4/2010), yang dipicu rencana penggusuran Makam Mbah Priok.

Mengapa pemerintah dan Pelindo II begitu getol untuk menggusur makam kramat yang terletak persis di mulut terminal peti kemas itu?

Tulisan yang dimuat di situs resmi Departemen Perhubungan ini mungkin bisa jadi jawabannya. Situs resmi milik Departemen Perhubungan ini memuat tulisan berjudul "Makam yang Mengubur Standar Keamanan" dengan sub judulnya Melongok implementasi International Ship and Port Facility Security (ISPS) Code di TPK Koja.

Diceritakan dalam tulisan itu, pada 24 Agustus 2007 lalu United States Coast Guard (USCG) berkunjung ke PT Terminal Peti Kemas Koja. Agendanya adalah memberi penilaian apakah PT Terminal Peti Kemas (TPK) Koja bisa masuk dalam kategori fasilitas terminal pelabuhan di Indonesia yang sudah mengimplementasikan standar ISPS Code secara penuh. International

Saat itu mereka melihat gejala yang aneh. Hari itu jalur masuk ke TPK Koja sedang didatangi ratusan orang. Mereka tak lain adalah para jamaah yang sedang melakukan “haul” (peringatan) terhadap leluhur, dengan mengunjungi makam seorang habib di sekitar TPK Koja tersebut, yang menurut sementara pihak adalah pembawa Islam pertama ke Jakarta.

"Ternyata kedatangan ratusan orang tersebut menjadi gangguan dalam penilaian. Paling tidak, mulai akses pintu masuk ke pintu makam yang letaknya hanya beberapa puluh meter dari pintu TPK Koja yang merupakan Lini I (satu) yang cukup vital. Karena itu, terbitlah hasil assessment visit USCG bahwa TPK Koja dimasukkan ke dalam kategori Facilities Not Significantly Implementing The ISPS Code oleh US Coast Guard," begitu isi lengkap satu paragraf di tulisan itu.

Apa itu ISPS Code? Dalam literatur yang Tribunnews.com temukan, ISPS adalah hasil keputusan dari Konvensi Keamanan Laut Internasional 1974/1988. Intinya memberikan standar pengamanan minimum atas kapal, pelabuhan, serta beberapa hal yang terkait dengan lembaga pemerintah.

US Coast Guard ditunjuk untuk memimpin Organisasi Maritim Internasional yang merupakan lembaga untuk mengadvokasi penegakan dari aturan ini.

Alhasil sampai hari ini, TPK Koja tak berstandar ISPS Code secara penuh.

Tak Aman
Betulkah TPK Koja tak aman? Memang, buktinya ratusan orang terluka dan tiga orang ditemukan tewas terkapar di antara tumpukan jejeran peti kemas. Atas "ketakamanan" ini, Presiden SBY pun bereaksi. "Jangan adalagi cara-cara seperti ini dalam penyelesaian kasus serupa di mana pun, tempuhlah jalan persuasif," katanya. Kita tunggu!

Tiga nyawa sudah jatuh dalam peristiwa ini. Usai bentrok berdarah ini, Wagub DKI Jakarta Prijanto berkilah, "Kami bukan menggusur, cuma ingin mempercantik areal pemakaman itu. Apalagi jasad Mbah Priok juga sudah sejak lama dipindahkan ke TPU Semper sejak 1997 lalu," katanya.

Prijanto berdalih, mobilisasi ratusan anggota Sat Pol PP dan alat beratnya ke lokasi adalah upaya untuk menegakkan hak rakyat. "Pelindo II secara sah ditentukan pengadilan sebagai pemilik lahan itu," katanya. Sumber Tribunnews

Berikut Tulisan Yang ada Situs Departemen Perhubungan
Melongok implementasi ISPS Code di TPK Koja MAKAM YANG MENGUBUR STANDAR KEAMANAN “Tak ada gading yang tak retak,” demikian bunyi salah satu pepatah yang sudah dikenal dan diketahui publik sejak lama di Indonesia.

Pepatah itu untuk menggambarkan bahwa betapa segala sesuatu di dunia ini tak ada yang sempurna, termasuk di sini adalah upaya oleh Manajemen PT Terminal Petikemas (TPK) Koja untuk menjadikan terminal itu masuk dalam kategori fasilitas terminal pelabuhan di Indonesia yang sudah mengimplementasikan standar keamanan ISPS Code secara penuh.

Namun, apa yang terjadi? Ketika tim dari US Coast Guard berkunjung ke TPK itu pada 24 Agustus 2007, ternyata pada hari yang bersamaan, jalur masuk ke TPK Koja sedang didatangi ratusan orang. Mereka tak lain adalah para jemaah yang sedang melakukan “haul” (peringatan) terhadap leluhur, dengan mengunjungi makam seorang habib di sekitar TPK Koja tersebut yang menurut sementara pihak, adalah pembawa Islam pertama ke Jakarta. Meski sampai saat ini, tak ada literatur yang menyatakan bahwa daerah tersebut adalah situs budaya yang layak dipertahankan, ternyata kedatangan ratusan orang tersebut menjadi gangguan dalam penilaian. Paling tidak, mulai akses pintu masuk ke pintu makam yang letaknya hanya beberapa puluh meter dari pintu TPK Koja yang merupakan lini I yang cukup vital. Karena itu, terbitlah hasil assessment visit USCG bahwa TPK Koja dimasukkan ke dalam kategori Facilities Not Significantly Implementing The ISPS Code oleh US Coast Guard. “Temuan itu secara tegas menyatakan bahwa jalur masuk ke makam dan TPK Koja menjadi satu,” kata Kabid GAMAT Adpel Priok, Panji Nirwana yang juga sebagai salah satu Port Security Officer (PSO) Pelabuhan Tanjung Priok untuk implementasi ISPS Code.


Pandangan sekilas kami dari kejauhan memperlihatkan, makam itu terlihat suram. Cat putihnya sudah mengelupas di beberapa bagian. Tak jauh dari situ, terdapat masjid bercat hijau yang sehari-hari tampak sepi. Menara di samping masjid setinggi 7 meter sudah tak sedap lagi dilihat, karena kotor oleh debu dan cat sudah rontok. Kondisi itu, pernah diakui oleh Kepala Administrasi Pelabuhan (Adpel) Tanjung Priok, Bobby R Mamahit sebagai situasi yang serba salah, meski keberadaannya mengganggu. Sebagian laporan menyebutkan, makam keramat itu tak bisa digusur atau dibiarkan dipelihara oleh mereka yang mempercayainya. Akibatnya, banyak warga keluar-masuk terminal. "Susah kalau sudah soal kepercayaan. Dibiarkan saja. Tapi ya itu, terminal menjadi tidak steril," kata Bobby suatu ketika. Faktanya, bisa ditebak yakni tidak gampang menghadapi situasi seperti itu. Apalagi, ketika berhadapan dengan urusan kepercayaan yang menjadi komoditas “mahal'” dan ongkos sosial yang tidak sedikit.


Selain suram ternyata situasi di daerah makam tersebut juga mengundang “keseraman”. Setidaknya itu yang dialami penulis ketika mencoba melihat lokasi tersebut beberapa waktu lalu, sejumlah pemuda bersarung dan berpeci putih, sudah bersiang menghadang kami. “Ada apa bapak datang ke sini? Tanya salah seorang di antara 3-4 pemuda yang menghampiri kami, ketika kaki kami terlanjur masuk beberapa meter di kawasan itu. “Bapak jangan coba-coba menantang lagi, kami. Sudah ada korban tewas dan ditikam beberapa waktu lalu,” kata pemuda itu menyerocos dan tak peduli dengan jawaban kami melalui bahasa tubuh yang tenang.
Kami berusaha menenangkan bahwa kedatangan kami tak ada urusan dengan persoalan sengketa tanah dan sebagainya.

Kami cuma melihat dan sedang melakukan tugas liputan. Di antara mereka rupanya tahu bahwa kami tadi telah mengambil beberapa jepretan gambar dengan tustel digital. Eh, mereka membalasnya dengan mengambil gambar kami. Entah apa maksudnya. Lalu kami meninggalkan kerumunan itu segera karena situasinya tidak bersahabat, mereka benar-benar menjaga ketat kawasan itu.

Faktor Lain

Selain masalah makam yang akhirnya “mengubur” standar keamanan tersebut, temuan US Cost Guard juga menyebutkan bahwa Port Facility Security Plan (PFSP) belum direvisi, pemeriksaan ID Card belum dilaksanakan secara maksimal, lalu lintas menuju TPK Koja perlu diatur lebih maksimal dan masih banyak kendaraan yang belum teridentifikasi lalul lalang dan berkeliaran di dalam terminal. Oleh karena itu, segera Kabid Gamat Kantor Adpel Tg. Priok dan Adpel Tg. Priok yang selaku Port Security Commiter (PSC) telah melayangkan surat kepada Dirut TPK Koja yang intinya berisi bahwa penilaian tersebut bukan merupakan hambatan akan tetapi merupakan motivasi perbaikan dan peningkatan dalam melaksanakan ISPS Code di TPK Koja.


Dirut TPK Koja Sebulon Butarbutar yang ditemui di kantornya pada 27 Maret lalu menjelaskan bahwa tidak semua hasil temuan yang dilakukan oleh US Coast Guard itu berada di wilayah kerja TPK Koja. “Jalur masuk ke kawasan ini masih lini II dan “gate'-nya dikelola oleh PT Pelindo II dan keberadaan makam yang yang status tanahnya masih dalam proses sengketa itu berada di lahan milik PT JICT (Jakarta Internasional Container Terminal),” katanya. Hanya saja, pintu masuk makam itu berhadapan langsung dengan akses menuju TPK Koja. “Letaknya memang puluhan meter saja di depan pintu TPK. Ini yang mengganggu pemandangan jika pada hari tertentu ada kerumunan orang atau pengunjung makam,” kata Sembolon.


Untuk itu, tegas Sembolon, pihaknya telah melakukan beberapa perbaikan fisik seperti merevisi Post Facilities Security Plan (PSFP) perbaikan bangunan security control centre, melengkapi dan menambah alat identitas orang dan kendaraan (ID Card, rompi, stiker) dan perlengkapan kendaraan (detector dan mirror inspection), menambah jumlah petugas keamanan sebanyak 32 orang, melaksanakan trainning, dan pelatihan sesuai kebutuhan serta memperbaiki seluruh security perimeter (gate, pagar, kawat baja dan lain-lain) dengan biaya seluruhnya sekitar Rp1,5 miliar. Sedangkan upaya untuk menertibkan pengunjung makam misalnya akan dibangun jalan khusus ke makam itu dan pengunjung akan diberi ID Card khusus
(Sumber http://118.97.61.233/id/index2.php?module=liputan_khusus&act=view&id=9)

Jadwal Mediasi Kasus Mbah Priok Ditunda Jam 16.00

Jadwal Mediasi Kasus Mbah Priok Ditunda Jam 16.00 ; Rapat mediasi untuk menyelesaikan perselisihan kepemilikan lahan makam Mbah Priok yang sejatinya dilaksanakan pagi tadi, diundur menjadi pukul 16.00 nanti. Tetapi, tempat pertemuannya tetap sama, yakni di Balaikota DKI Jakarta.

Hal itu diungkapkan Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Boy Rafli Amar di Jakarta Utara, Kamis 15 April 2010 siang.Selain pejabat Pemprov DKI, mediasi sore nanti rencananya juga menghadirkan perwakilan PT Pelindo II, Polres Pelabuhan Tanjung Priok, warga, dan kuasa hukum ahli waris makam Mbah Priok. Selain itu, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh adat.

Tadi pagi, Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto mengatakan Pemprov DKI Jakarta akan berupaya menyelesaikan kasus rencana eksekusi pendopo di makam Mbah Priok melalui jalan damai. Sebab, Pemprov tidak menginginkan kejadian bentrok warga dengan petugas kembali terjadi karena akan berdampak luas terhadap ketentraman dan ketertiban masyarakat Jakarta, khususnya warga Jakarta Utara. Penyelesaian kasus ini juga akan dilakukan sesegera mungkin untuk menghindari adanya oknum-oknum yang memanfaatkan kasus ini demi kepentingan segelintir orang.

“Untuk mencegah dampak dari permasalahan ini semakin meluas, dan mencegah agar tidak digunakan untuk kepentingan negatif oleh oknum tak bertanggung jawab, Pemprov DKI memediasi untuk negosiasi secara damai mencari jalan keluar yang menguntungkan kedua belah pihak,” kata Prijanto.

Dalam mediasi, akan dijelaskan asal muasal rencana penertiban bangunan liar di sekitar kawasan makam Mbah Priok. Yaitu bermula PT Pelindo II meminta bantuan kepada Pemprov DKI Jakarta untuk menertibkan bangunan liar dan bukan menggusur makam Mbah Priok.

Bahkan, Pemprov DKI telah meminta kepada PT Pelindo II agar makam itu tetap ada karena akan dipugar untuk dibangun sebuah monumen yang indah dan bagus. Rencananya monumen makam Mbah Priok sedang diajukan ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta untuk dijadikan sebagai salah satu bangunan cagar budaya.

“Saya harap dengan mediasi ini, seluruh pihak akan memperoleh pemahaman yang sama, emosi dapat diredam dan mendapatkan jalan keluar yang terbaik. Sehingga kerusuhan tidak terulang kembali,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, rencana eksekusi pendopo makam yang diklaim milik PT Pelindo II itu, Rabu 14 April 2010, berakhir dengan bentrok fisik antara warga, Satpol PP dan polisi. Kejadian ini mengakibatkan jatuhnya korban jiwa di pihak Satpol PP, dan puluhan lainnya, baik di pihak petugas maupun warga, mengalami luka-luka.

How SBY Responses Deadly Tomb Protest in Jakarta

How SBY Responses Deadly Tomb Protest in Jakarta ; Protesters wielding machetes, sticks and petrol bombs clashed with riot police in running battles over a Muslim cleric’s tomb near the Indonesian capital’s main seaport, killing two people and wounding some 130 others. Some of the injuries were severe, including an officer who had his stomach slashed and another whose hand was chopped off. Wednesday’s violence was Jakarta’s worst civil unrest in years.

About 2,000 city security officers and 600 police used tear gas, rubber bullets, water cannons and batons to beat back the protesters near the seaport of Tanjung Priok in northern Jakarta, city spokesman Cucu Kurnia said. Police estimated the number of protesters at 500. The demonstrators threw rocks and petrol bombs, setting fire to at least five police vehicles and destroying dozens of others.

An Associated Press photographer saw several protesters beaten by police and dragged away bleeding, including teenagers. Fist fights broke out and burning tires and cars sent a cloud of black smoke over the port.

The protesters believed city officials were trying to remove the tomb of an Arab cleric who helped spread Islam in North Jakarta in the 18th century. The tomb is on land owned by the state-run seaports operator Pelindo II, and the area is home to many squatters.

Two people were killed in the clashes and the death toll could increase, deputy national police spokesman Col. Zaenuri Lubis told reporters late Wednesday. The demonstration began in the morning when hundreds of security officials showed up near the tomb with excavators. Kurnia denied the tomb was the target, saying the city wanted to remove the squatters.

“We did not intend to demolish the tomb, but we want to evict the illegal settlers. In fact, the local government wanted to preserve or restore the tomb,” Kurnia said. The protesters believed otherwise and attacked city officials, sparking running battles that lasted several hours. A second round of intense fighting broke out hours later outside the hospital where the wounded had been taken. By nightfall the clashes had stopped, but the situation was still tense.

Protesters maintained control of the area around the tomb and some 500 security forces had to be evacuated to a nearby police station by boat because leaving by road would have likely led to more clashes, said Bambang Ervan, a spokesman at the transportation ministry. Just after midnight, several hundred protesters set fire to five security vehicles parked outside the hospital, Metro TV reported.

The flare-up came a short time after senior government and police officials visited the hospital. Kurnia said authorities were surprised by the response of those living near the tomb.

“The mass anger was horrible and beyond our expectation for what was a simple case,” he said.

Kurnia said members of a hard-line Muslim group also were involved in the fighting. “The locals were supported by a mass organization who outnumbered the locals by twofold,” he said.

Kurnia declined to name the group. He may have been referring to the Islamic Defenders Front, an organization with a long history of vandalizing nightspots, hurling stones at Western embassies, and torching buildings belonging to rival groups or sects it considers heretical.

Jakarta police chief Maj. Gen. Wahyono, who uses a single name, said 130 people were wounded, including 79 security forces. Kurnia said seven were in critical condition, including a security officer who had his stomach slashed open with a machete, and another whose hand was cut off.

President Susilo Bambang Yudhoyono expressed concern and regret over the clashes and ordered an investigation. He also called on Jakarta’s governor to meet all parties involved and put any evictions in the area on hold until a solution can be reached.

Pidato Presiden SBY Mengenai Kerusuhan di Makam Mbah Priok

Pidato Presiden SBY Mengenai Kerusuhan di Makam Mbah Priok, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono minta makam Mbah Priok di Koja, Jakarta Utara dalam status quo dan minta proses penggusuran dihentikan. Pemprov DKI diminta melakukan komunikasi dengan pihak-pihak terkait serta melakukan pendekatan kepada masyarakat. Demikian disampaikan Presiden SBY dalam jumpa pers di depan Istana Presiden, Rabu (13/4/2010) malam. Presiden didampingi Mensesneg Sudi Silalahi dan Sekretaris Kabinet Dipo Alam.

Presiden juga menginstruksikan segera lakukan investigasi terhadap peristiwa benturan bentrok fisik tersebut untuk mengetahui siapa yang salah dan benar.

Kepada Polri, Presiden SBY menginstruksikan untuk mencegah terjadinya insiden baru dan melindungi kepentingan masyarakat sebab jika tidak diantisipasi, kondisi ini bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak lain.

Kepada pers, Presiden SBY minta untuk memberikan pemberitaan yang akurat. "Jika ada yang meninggal, beritakan memang meninggal. Jika hanya luka, jangan terburu-buru memberitakan meninggal. Sebab jika tidak tepat, itu akan menimbulkan masalah," katanya.

Presiden yakin pers tidak melakukan provokasi dan akan tetap akurat dalam pemberitaan seputar kasus Koja.

Presiden kembali menyayangkan peristiwa seperti ini terjadi ketika melakukan penertiban. "Ini kesempatan sekali lagi, seperti yang pernah saya sampaikan berkali-kali, baik kepada provinsi maupun kabupaten untuk memilih cara atau pendekatan yang baik dalam melakukan penertiban meskipun secara hukum benar," katanya.

"Saya sudah pernah menyampaikan untuk secara persuasif mencegah benturan yang bersifat fisik. Sebab dalam situasi yang panas benturan fisik akan mudah terjadi dan akan menimbulkan korban," tambah Presiden.

Kronologis Kerusuhan di Makam Mbah Priok

Kronologis Kerusuhan di Makam Mbah Priok ; Sengketa lahan di area pemakaman Mbah Priok alias Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad, Koja, Jakarta Utara, Rabu (14/4), berubah menjadi pertikaiaan berdarah. Lebih dari seratus orang, baik dari warga maupun petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan polisi mengalami luka-luka. Berikut kronologis kejadian tersebut.

Kerusuhan pertama kali terjadi di depan gerbang masuk area pemakaman yang dikeramatkan itu. Tanda-tanda bentrokan, mulai terasa, saat beberapa warga mulai terpancing emosinya, dengan keberadaan petugas Satpol PP dan polisi. Karena warga mulai beringas, polisi pun akhirnya menyemprotkan air dari Mobil Water Canon untuk membubarkan massa. Namun ini tidak berhasil, sebab massa yang menolak pembongkaran Makam Mbah Priok, membalas dengan lemparan batu.

Tidak cukup water canon, polisi pun menembakkan gas air mata. Beberapa orang yang dianggap provokator, juga ditangkap polisi. Massa yang sudah tercerai berai, meninggalkan beberapa kendaraan mereka. Karena panik, seorang warga bersembunyi di got kotor tertangkap polisi. Sedangkan sejumlah warga lainnya menyelamatkan diri ke dalam makam, dan rumah seorang habib.

Tetapi beberapa warga, tidak beruntung. Tidak mengenal usia, seorang anak menjadi bulan-bulanan pukulan aparat keamanan. Aksi anarkis dilakukan kedua belah pihak. Dari aparat keamanan pun korban berjatuhan. Puluhan orang luka-luka, dan jumlah korban tewas masih simpang siur. Namun, seorang saksi mata menuturkan melihat seorang warga yang diduga tewas.

Mbah Priok, dikenal Umat Islam sebagai penyebar ajaran Agama Islam di tanah Batavia, pada abad ke-18. Sosoknya begitu dihormati, sehingga kerap kali Umat Islam berziarah ke makamnya. Rasa hormat warga terhadap sosok karismatik Mbah Priok, laksana bensin dan percik api, yang mudah terbakar apabila tokoh yang mereka hormati direndahkan.

Video Anak Kecil Tewas Di Pukuli Satpol Di Makam Mbah Priok

Video Anak Kecil Tewas Di Pukuli Satpol Di Makam Mbah Priok ; Bentrokan terjadi antara warga dan Satuan Polisi Pamong Praja di Koja, Jakarta Utara, Rabu (14/4). Hingga kini, dua orang tewas dan puluhan lainnya terluka dari kedua kubu. Korban telah dilarikan ke rumah sakit. Berikut video bentrokan tersebut.

Bentrokan dipicu tindakan Satpol PP yang akan menggusur bangunan liar di sekitar makam Habib Hasan bin Muhammad Al Hadad alias Mbak Priok. Sementara warga menolak penggusuran itu. Akibatnya, bentrokan pun tak terhindarkan.

Kedua kubu saling melempar batu. Warga menggunakan parang dan golok untuk mengusir aparat. Sementara aparat menggunakan pentungan dan tameng untuk menghadapi warga. Puluhan korban berjatuhan akibat sabetan pedang, lemparan batu, dan tembakan peluru karet

Inilah Video Anak Kecil Tewas Di Pukuli Satpol Di Makam Mbah Priok




Poto Pengikut Habib Hasan Alhaddad Dipukuli dan Ditendang Puluhan Satpol PP

Pengikut Habib Hasan Alhaddad Dipukuli dan Ditendang Puluhan Satpol PP; Farhan (23), pengikut Habib Hasan Alhaddad, tampak letih dan menahan kesakitan seusai menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Koja, Jakarta Utara.

Kepala sebelah kirinya terpaksa dijahit akibat terluka karena diinjak-injak oleh puluhan Satpol PP. Keningnya tampak memar dan lebam bekas pukulan tongkat dan bambu yang diayunkan oleh Satpol PP. Bahkan, mata sebelah kanannya tidak bisa membuka dengan sempurna.

"Ini kepala saya dijahit dan memar-memar. Seluruh badan saya dipukuli tadi," tutur Farhan sambil menahan amarah saat ditemui di RSUD Koja, Jakarta, Rabu (14/4/2010).

Peristiwa itu terjadi saat Farhan tengah mengambil air wudhu di masjid yang terletak di kompleks makam Mbah Priok. Namun, belum rampung dia mengambil air wudhu, puluhan petugas Satpol PP menghampirinya. Sesaat kemudian, Farhan diseret dan dimasukkan ke dalam kamar mandi masjid. Di kamar mandi inilah dia dipukuli.

Selain dia, menurut keterangan Farhan, ada dua warga lainnya yang mendapat perlakuan serupa dari Satpol PP. Bahkan, salah seorang warga merupakan bocah berusia delapan tahun dan seorang lainnya berusia 19 tahun. Keduanya juga dimasukkan ke kamar mandi dan dipukuli kepalanya. "Satu orang dimasukkan di satu kamar mandi. Saya di kamar mandi kedua. Dua orang itu meninggal," tutur Farhan.
Setelah dipukuli di kamar mandi, Farhan diseret keluar oleh anggota Satpol PP. Dia dibaringkan di lapangan dan diinjak-injak oleh petugas Satpol PP. Adapun dua orang lainnya diseret mengelilingi lapangan dengan kondisi yang mengenaskan.

"Ini sangat kejam. Bayangkan, yang delapan tahun itu ditembak pakai gas air mata. Diperlakukan seperti hewan. Bayangkan, itu anak kecil digebukin. Sudah dimasukin di ambulans saja masih digebukin," tutur dia.

Mendapat perlakuan seperti itu, Farhan berusaha melarikan diri. Sambil berlari terpincang-pincang, Farhan mencoba keluar dari kompleks makam Mbah Priok."Saya enggak pakai senjata apa pun. Cuma salawat saja sama zikir. Mereka (Satpol PP) pakai tongkat, kayu, bambu," ungkapnya.

Foto Tragedi Kerusuhan Di Makam Mbah Priok

foto Tragedi Kerusuhan Di Makam Mbah Priok, Bentrokan antara Satpol PP dengan massa yang menolak penggusuran makam Mbah Priok, meninggalkan jejak puluhan orang luka di kedua belah pihak. Selain itu juga memakan korban di luar kedua belah pihak.

Untuk menghalau massa saat bentrokan menentang penggusuran makam Mbak Priok di Koja, Jakarta, polisi mengerahkan Water Cannon. Namun mobil lapis baja ini seakan tidak berfungsi dan dihancurkan warga, Rabu (14/4)

Inilah Foto Foto Tragedi Kerusuhan Di Makam Mbah Priok pada hari Rabu Rabu (14/4/2010)

Bentrokan antara petugas Satpol PP dengan massa yang menolak pembongkaran tidak dapat terhindarkan. Massa menyerbu petugas Satpol PP yang memaksa masuk areal makam.

Petugas Satpol PP telah menguasai pintu masuk areal makam Mbah Priok yang sebelumnya dibarikade oleh massa Mbah Priok dengan membakar ban bekas.



Dengan tameng polisi warga menentang polisi

Sejumlah warga terluka saat bentrokan terjadi.

Warga merusak mobil milik polisi.

Massa berusaha menggulingkan Water Cannon milik polisi. Reuters/Supri.

Warga Membakar Mobil Sat Pol PP

Seorang Satpol PP yang terluka dievakuasi.

Warga versus polisi. Reuters/Crack Palinggi.


Poto Seorang bocah berusia belasan tahun terluka parah diamuk petugas saat bentrok antara warga dengan Satpol PP dalam upaya pembongkaran kompleks makam Mbah Priuk di Koja, Jakarta Utara, Rabu (14/4/2010). Bentrokan ini mengakibatkan sedikitnya 100 orang terluka dan belasan kendaraan roda dua dan empat dibakar massa.


Ketua Forum Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq mendatangi lokasi bentrok warga dan Satpol PP di depan makam Mbah Priok, Jakarta, Rabu (14/4). Habib Rizieq berusaha menenangkan massa dan meminta Satpol PP meninggalkan lokasi

Foto - foto di atas Merupakan Bukti Bukti ketidak Mampuan Pihak keamanan dalam menjaga Kondusifitas Masyarakat
sumber poto detik

Video Tragedi Kerusuhan Di Makam Mbah Priok

Video Tragedi Kerusuhan Di Makam Mbah Priok, Sejumlah orang dari dua kelompok terluka dalam upaya eksekusi Makam Mbah Priok, di Koja, Jakarta Utara. Pemerintah Kota Jakarta Utara masih kesulitan mengeksekusi Makam Mbah Priok. Sementara ratusan warga yang menolak kompleks makam itu dibongkar, masih bertahan.

Inilah Video Satpol PP Brutal, Anggota DPRD Geram


Bentrok saat penggusuran makam "Mbah Priok"


Foto Tragedi Kerusuhan Di Makam Mbah Priok

Korban Tragedi Tanjung Priok Berdarah

Korban Tragedi Tanjung Priok Berdarah, Bentrokan antara Satpol PP dengan massa yang menolak penggusuran makam Mbah Priok, meninggalkan jejak puluhan orang luka di kedua belah pihak. Selain itu juga memakan korban di luar kedua belah pihak.

Data yang dikeluarkan oleh RSUD Koja Jakarta Utara, Rabu (14/4/2010), jumlah korban luka sebanyak 56 orang. Puluhan korban ini terdiri dari 9 personel Brimob, 36 personel Satpol PP, 1 personel Polantas, dan 10 orang dari massa.

Para korban ini, di antaranya menderita luka sabetan senjata tajam, lemparan batu, sabetan bambu, atau lemparan molotov. Sebagian besar korban menderita luka di kepala, tangan, dan kaki.

Sejauh ini, RSUD Koja belum bisa merilis puluhan identitas korban. Namun Humas RS Koja Caroline, berjanji akan menyampaikan data sejumlah korban, setelah semua identitas korban diperoleh. Selanjutnya akan dipublikasikan di depan Instalasi Gawat Darurat.

Bertambahnya jumlah korban, diperkirakan akan terus bertambah. Pasalnya bentrokan masih terus terjadi. Saat ini saja lokasi bentrokan sudah bergeser dari depan makam ke Jalan Raya Koja, tepatnya di depan RSUD Koja

Kasat Reskrim Polres Jakut Juga Kena Bogem Mentah Warga

Nasib sial harus dialami oleh Kompol Susatyo Purnomo Condro. Kasat Reskrim Polres Jakarta Utara ini harus menerima bogem mentah karena menghalau warga yang berusaha membakar mobil milik Satpol PP.

Puluhan warga yang berhasil menguasai jalan masuk ke Terminal Peti Kemas Koja, Jakarta, Rabu (14/4/2010) terus mencari anggota Satpol PP. Namun yang mereka temukan justru mobil pick up milik Satpol PP. Tanpa ada komando, warga pun berusaha merusak serta membakar lima unit mobil tersebut. Melihat hal itu, Susatyo berusaha menghalaunya. Massa yang sudah kalap, langsung menghajar Susatyo.

Buk! Hidung serta bibir Susatyo mengucurkan darah. Beruntung beberapa anggota polisi berhasil menyelamatkan Susatyo. Alhasil, warga melanjutkan membakar mobil itu hingga tidak ada yang tersisa. Asap hitam terlihat membumbung tinggi.

Priok Berdarah, Kepala Satpol PP Haryanto Badjuri Harus Bertanggung Jawab

Kekacauan makin tidak terkendali akibat bentrok Satpol PP dengan massa pembela makam Mbah Priok. Kerusuhan merembet sampai ke depan RS Koja. Pembakaran mobil pun tidak terhindarkan. Kepala Dinas Trantib dan Pol PP DKI Jakarta Haryanto Badjuri dinyatakan telah gagal dan harus bertanggung jawab.

"Karena kegagalannya mencegah jatuhnya korban luka-luka, pengeroyokan dan penganiayaan atas para korban yang tidak berdaya lagi," kata Koordinator Advokasi Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (PBHI) Abdul Hadi Lubis, dalam rilis kepada detikcom, Rabu (14/4/2010).

PBHI menyesalkan penertiban yang berujung dengan kerusuhan. Korban luka jatuh dari kedua pihak. PBHI mengutuk kebrutalan yang terjadi.Bahkan dari pihak warga sipil, ada anak-anak, remaja dan juga dua anggota DPRD DKI Jakarta yang ikut menjadi korban kekerasan. "Pemprov DKI Jakarta harus meminta pertanggungjawaban Kadis Trantib dan Pol PP DKI Jakarta, Haryanto Badjuri," imbuh Abdul Hadi.

Haryanto tidak bisa dikontak untuk dikonfirmasi terkait insiden berdarah tersebut. Dia terlihat berada di TKP pada Rabu pagi, beberapa saat sebelum pecah bentrokan. Haryanto merupakan Kadis Trantib dan Pol PP yang menjabat di sejumlah periode gubernur.

Korban Luka 90 Orang, 7 Kritis
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melansir data korban terbaru kerusuhan di penggusuran makam Mbah Priok di Koja, Jakarta Utara. Tercatat ada 90 orang mengalami luka.

"7 Orang luka kritis dan 83 luka berat dan ringan," kata Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Pemrov DKI Cucu Ahmad Kurnia saat dihubungi detikcom, Rabu (14/4/2010).

Cucu belum bisa memastikan, siapa saja yang mengalami luka-luka tersebut, apakah warga atau anggota Satpol PP atau polisi. "Belum bisa dipastikan, kita masih menunggu laporan dari petugas," tambahnya.

Motor Dibakar
Sementara itu diketahui 4 buah motor ikut dibakar. Salah satunya adalah motor Jupiter Z bernopol B 6915 PBl, milik wartawan RCTI Andi. Saat itu, padahal Andi sudah memarkirkan motornya di dekat pos 3 pelabuhan."Saya tinggalkan meliput dan saat kembali, motor saya sudah dibakar," ujar Andi.

Kini Andi hanya bisa melihat rongsokan motornya, dia baru mengetahui motornya ikut menjadi korban berdasarkan informasi dari temannya."Saya lihat motor saya hanya tinggal ban dan rongsokan, motor itu saya beli sejak lama," tutup dia sedih.

Potongan Jempol Ditemukan di Depan Gerbang Makam Mbah Priok

Potongan jempol tangan kiri ditemukan di depan gerbang makam Mbah Priok, Koja, Jakarta Utara setelah bentrok fisik antara Satpol PP dan warga yang menolak pembongkaran pendopo makam bersejarah itu.

Potongan jempol itu diduga milik salah satu anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang terkena tebasan senjata tajam warga. Dalam bentrok itu, sedikitnya 31 anggota Satpol PP terluka. Sebagian besar mengalami luka serius akibat terkena sabetan senjata tajam dan hantaman batu.

Wakil Walikota Atma Senjaya mengatakan bahwa penertiban gapura dan pendopo di makam Mbah Priok telah sesuai dengan instruksi gubernur DKI nomor 132/2009 tentang penertiban bangunan. Bangunan itu berdiri di atas lahan milik PT Pelindo II, sesuai dengan hak pengelolaan lahan (HPL) Nomor 01/Koja dengan luas 1.452.270 meter persegi.

Sedangkan bagi ahli waris makam Mbah Priok, rencana pembongkaran dinilai menyalahi aturan sebab areal pemakaman dan masjid itu memiliki sertifikat resmi yang dikeluarkan saat jaman pendudukan Belanda.

Update
Korban tewas akibat bentrokan di areal Makam Mbah Priuk ditemukan
Seorang korban tewas akibat bentrokan di areal Makam Mbah Priuk ditemukan, Rabu (14/4) malam. "Korban berasal dari petugas Satuan Polisi Pamong Praja," ujar Bobby, petugas keamanan Terminal Peti Kemas, Koja.

Bobby menerangkan korban bernama W. Soepomo. Korban baru ditemukan oleh petugas sekitar pukul 18.30 WIB setelah petugas keamanan menyisir seluruh kawasan Terminal Peti Kemas menjelang sore tadi. Temuan korban sudah dilaporkan pada pihak kepolisian. Namun hingga kini belum direspons untuk keperluan evakuasi.

Tempo sempat melihat jazad Soepomo yang letaknya hanya sekitar 50 meter dari gerbang Terminal Peti Kemas. Tubuh Soepomo tergeletak dengan luka di bagian perut sebelah kanan, bagian muka Soepomo juga tampak luka lebam dan mengeluarkan darah.

Bobby menambahkan, korban belum diketahui identitasnya lebih detil. "Bisa diidentifikasi oleh polisi," kata dia.Temuan itu membantah pernyataan Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Wahyono. Selasa sore dia menegaskan tidak ada korban tewas.
tag ; Tragedi Berdarah Makam Mbah Priok

Sejarah Mbah Priok Atau Habib Hasan bin Muhammad al Haddad

Sejarah Mbah Priok Atau Habib Hasan bin Muhammad al Haddad, Makam Habib Hasan bin Muhammad al Haddad atau yang dikenal sebagai Makam Mbah Priok, Koja, Jakarta Utara, menyimpan cerita sejarah sehingga sangat dihormati warga. Bahkan, ketika pendopo makam akan dibongkar pemerintah, pengikut rela mati mempertahankannya.

Cerita yang berkembang di masyarakat Tanjung Priok, Habib Hasan merupakan salah satu tokoh yang dikenal sebagai penyiar agama Islam. Dia berasal dari Pulau Sumatera. Habib bisa sampai di tanah Batavia (Jakarta) awalnya karena perahu yang tertimpa badai ketika hendak melintas di dekat Batavia.

Tetapi, pada waktu itu Habib selamat dari amukan badai. Menurut cerita yang dipercaya masyarakat, Habib selamat karena menemukan periuk. Dengan periuk itulah habib berhasil menepi ke Batavia. Sejak itu, Habib Hasan tinggal di Batavia dan menyiarkan agama Islam di sana. Tidak lama kemudian, kawasan tempat di mana habib pernah selamat dari badai itu dinamai
Tanjung Priok.

Habib Hasan meninggal di Batavia. Untuk mengenang perjuangan habib, pengikutnya membangun makam sekaligus masjid untuk mengadakan majelis taklim. Makam di Koja ini kemudian dikenal sebagai makam Mbah Priok. Tempat itu kemudian dikenal luas. Tiap akhir pekan, sampai sekarang, sedikitnya 1.500 orang mengikuti pengajian di sana.

Sampai akhirnya timbul kasus. Bangunan pendopo makam Mbah Priok dinyatakan berdiri di atas lahan milik PT Pelindo II sehingga menyalahi aturan dan harus ditertibkan. Sudah beberapa tahun lalu, upaya penertiban pendopo akan direalisasikan. Tetapi, ahli waris makam Mbah Priok menolak keras. Sampai akhirnya, Rabu (14/4), pemerintah mengerahkan petugas untuk mengeksekusi.

Pengikut Habib Ali Zaenal Abidin bin Abdulrahman Al Idrus dan Habib Abdullah Sting, ahli waris makam Mbah Priok, tidak tinggal diam. Mereka menghadang laju petugas hingga akhirnya bentrok fisik pecah dan korban berjatuhan.

Makam Mbah Priok adalah potongan histori Jakarta. Dalam perkembangan zaman, di sekitar makam berdiri aneka bangunan, termasuk bangunan tanpa izin.

Lantas siapa Mbah Priok?
Mbah Priok terkait erat dengan sejarah kota Jakarta dan perkembangan Islam di Jawa. Nama daerah Tanjung Priok yang kita kenal sekarang ini, lahir dari kisah hidup Mbah Priok.

Mbah Priok adalah nama lain dari Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad. Habib Hasan adalah penyebar Islam di Jakarta Utara pada abad ke-18. Ulama ini meninggal pada tahun 1756 karena kapalnya terkena badai di laut utara Jakarta.

Saat Habib Hasan dimakamkan, batu nisannya adalah dayung patah dan periuk nasi milik Habib Hasan. Di makam itu juga ditanam Bunga Tanjung. Kemudian, dari makam ini lahirlah nama Tanjung Priok yang merujuk pada bunga Tanjung dan periuk nasi di makam ulama ini.

Dahulu, makam asli Mbah Priok ada di kawasan Pondok Dayung. Makam ini lalu dipindahkan ke lokasi yang ada sekarang. Seiring waktu berjalan, kawasan di sekitar makam Mbah Priok, tumbuh menjadi kawasan pelabuhan terpadu Tanjung Priok. Hingga saat ini, makam Mbah Priok menjadi salah satu tempat ziarah di Jakarta. Para peziarah datang dari berbagai wilayah di Indonesia.

Makam ulama ini, kini berada di dekat Terminal Peti Kemas (TPK) Koja, Jakarta Utara. Selain makam, ada juga beberapa perumahan milik warga. Karena wilayah ini dekat dengan pelabuhan, mulailah timbul perselisihan dengan warga dan ahli waris makam dengan pengelola pelabuhan. "Wajar jika umat mempertahankan tempat, karena ini merupakan syiar Islam dan tempat sejarah," kata pengacara ahli waris Mbah Priok, Suhendri Hasan, Rabu (14/4/2010) pagi.

Sementara Pemprov membantah akan menggusur makam. "Kami sama sekali tidak akan membongkar makam Mbah Priok, bahkan menyentuh pun tidak. Justru nanti luasnya akan kita tambah, yang sekarang 20 meter persegi menjadi 100 meter persegi,

Pemprov menyatakan bahwa yang akan digusur adalah bangunan tanpa izin di sekitar makam, yang menurutnya, merupakan lahan PT Pelindo II. Perundingan antara warga dan Pemprov DKI Jakarta, tidak pernah mendapatkan titik temu. Perselisihan ini berujung pada rusuh yang meletus hari ini.

Satpol PP Pukuli 5 Bocah Hingga Sekarat Saat Trgedi di Makam Mbah Priok

Satpol PP Pukuli 5 Bocah Hingga Sekarat Saat Trgedi di Makam Mbah Priok ; Sebanyak lima anak berusia belasan tahun sekarat setelah dipukuli Satpol PP dengan menggunakan tangan kosong dan tongkat di depan makam Mbah Priok.

Meski sudah tidak tersungkur tak berdaya di tanah, namun sejumlah Satpol PP terus memukuli lima anak tersebut secara bergantian. Tidak hanya satu orang, tapi anak-anak tersebut dikeroyok beramai-ramai.

"Biarin, diamin saja biar mati sekalian. Teman kita juga banyak yang terluka parah," teriak salah seorang Satpol PP di Jakarta, Rabu (14/4/2010).

Setelah puas memukuli anak-anak tersebut, sejumlah Satpol PP lantas menyeret tubuh lima bocah ke tempat yang agak jauh dari gerbang makam Mbah Priok. Namun, tubuh para bocah yang sudah berlumuran darah itu diletakkan begitu saja di jalan. sumberOkezone

Kerusuhan di Makam Mbah Priok Polisi Diseret dan Diamuk Massa

Kerusuhan di Makam Mbah Priok Polisi Diseret dan Massa, Bentrokan antara warga dan polisi di depan RSUD Koja, Jakarta Utara, Rabu (14/4/2010) semakin panas. Seorang polisi diseret dan dipukuli oleh warga. Tidak terima, seorang warga pun diperlakukan hal yang sama oleh polisi.

Peristiwa bermula saat sebuah mobil Kijang berwarna biru bernopol B 1608 RI dan dua motor dihancurkan warga. Seluruh kaca di mobil itu pecah, bodinya pun penyok-penyok. Seorang polisi yang melihat hal itu berusaha menghalangi warga. Namun malang, polisi itu justru dipukuli. Polisi yang belum diketahui identitasnya, diseret dan terus diamuk warga.

Beruntung ia berhasil diselamatkan oleh 5 rekannya yang lain. Namun kejadian ini berbuntut panjang. Polisi balas dendam dengan menculik salah satu warga. Warga itu pun mengalami nasib yang sama dengan polisi sebelumnya. Polisi memukulinya dengan membabi buta. Situasi semakin menegangkan. Makin lama jumlah massa kian banyak. Akhirnya polisi pun memilih mundur.

Bentrok Warga vs Aparat, Jalan Utama Tanjung Priok Terputus
Bentrokan antara warga yang menolak pembongkaran pemakaman Habib Hasan bin Muhammad al Haddad atau Mbah Priok dengan aparat terus belangsung di sejumlah titik. Akibatnya, jalan utama menuju pelabuhan Tanjung Priok putus total. Pantauan detikcom, Rabu (14/4/2010), jalan dari pelabuhan Tanjung Priok menuju Cilincing dan arah sebaliknya terputus.


Seluruh kendaraan tidak bisa melintas di jalan yang biasanya dilalui truk pengangkut peti kemas tersebut. Hingga pukul 15.00 WIB, kondisi itu belum juga berubah. Sebelumnya, pengguna jalan masih dapat memanfaatkan jalan utama menuju pelabuhan itu meski kondisi lalu lintas padat merayap. Kini, petugas melakukan penutupan jalan itu.

Polisi Rebut Handycam Wartawan Saat Merekam Kerusuhan Di Makam Mbah Priok

Polisi Rebut Handycam Wartawan Saat Merekam Kerusuhan Di Makam Mbah Priok; Saat sedang meliput bentrokan di kawasan makam Mbah Priok, handycam wartawan Poskota, Yahya Abdul Hakim, diambil polisi. Kamera Yahya direbut paksa saat dia mengambil gambar warga yang sedang dipukul anggota polisi.

"Saat terjadi keributan, saya coba ambil gambar warga dipukuli oleh polisi, lalu tiba-tiba saya didorong dari belakang, kamera saya diambil," ujar Yahya kepada detikcom, Rabu (14/4/2010).

Kejadian ini menimpa Yahya ketika meliput bentrokan warga dan polisi di kawasan Terminal Peti Kemas Koja, tak jauh dari makam Mbak Priok.

Menurut Yahya, polisi melarang gambar polisi memukul warga direkam. Bahkan polisi yang merebut kamera Yahya, sempat bilang jika kamera Yahya disita dan jika mau diambil, harus ketemu komandannya terlebih dahulu.

"Kalau mau diambil, silakan ketemu komandan," ucap Yahya menirukan ucapan petugas polisi. Kamera Yahya adalah handycam merek JTV.

Selebaran Bernada Provokasi Beredar di Makam Mbah Priok

Selebaran Bernada Provokasi Beredar di Makam Mbah Priok ; Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Utara mengimbau kembali pada seluruh warga agar tidak terprovokasi dengan adanya selebaran gelap yang beredar. Selebaran gelap itu berisi mengajak warga untuk menolak pembongkaran gapura dan pendopo makam Habib Al Hadad atau dikenal dengan sebutan Mbah Priok. Sejauh ini belum diketahui siapa di balik aksi penyebaran selebaran gelap itu.

Wakil Walikota Jakarta Utara, Atma Senjaya, mengatakan, selebaran tersebut tidaklah bertanggung jawab dan sangat menyesatkan warga. Sebab, dalam selebaran itu dikatakan bahwa makam Mbah Priok yang merupakan peninggalan sejarah akan dibongkar. Padahal, faktanya tidak demikian, melainkan akan dibuatkan monumen. “Selain isinya tidak benar dan memutar balikan fakta, juga berisi ajakan masyarakat untuk melakukan perlawanan terhadap penertiban gapura dan pendopo di lokasi tersebut,” kata Atma, Senin (5/4) sore.
Sejatinya, pekan lalu Pemkot Jakarta Utara akan melakukan penertiban gapura dan pendopo di makam Mbah Priok yang merupakan milik PT Pelindo II, sesuai hak pengelolaan lahan (HPL) Nomor 01/Koja dangan luas 1.452.270 meter persegi. Namun hal tersebut tertunda, mengingat banyak isu beredar pada tindakan anarkis mengarah SARA, termasuk selebaran mengajak umat Islam melawan penertiban tersebut. ”Kita ingatkan kepada seluruh masyarakat agar jangan mudah terpancing. Itu ajakan-ajakan yang tidak bertanggung jawab,” ujarnya.

Meski demikian, pembongkaran gapura dan pendopo makam Mbah Priok akan tetap dilakukan Pemkot Jakarta Utara dalam waktu dekat, hanya saja ia tidak menjelaskan kapan pelaksanaannya. “Karena sudah mengarah kepada isu menyangkut SARA, kita masih menunggu kordinasi dari Polda Metro Jaya. Apalagi, lokasinya berada pada objek vital yaitu berdekatan dengan Pelabuhan Tanjungpriok, RSUD Koja, Pertamina, dan Gereja Petra,” jelasnya.

Selanjutnya ia menegaskan, surat peringatan ketiga sudah dilayangkan kepada pengelola atau ahli waris makam agar segera mengosongkan dan membongkar sendiri bangunan yang mereka kelola pada Rabu (24/3) lalu. Sehingga ia tinggal menunggu persiapan dan koordinasi dari Polda Metro Jaya.

Pantauan beritajakarta.com di lapangan, hingga saat ini, pengelola makam keramat Mbah Priok dan para pengikutnya terus berjaga-jaga, mengantisipasi terjadinya pembongakaran secara mendadak. Namun penjagaan itu tidak menghalangi masyarakat yang datang ke tempat itu untuk berziarah.

Bahkan, Jumat (2/4) lalu ada kegiatan doa bersama meminta agar penertiban gapura dan pendopo makam Mbah Priok gagal dilakukan. “Kami tetap akan melawan jika penertiban itu dilakukan hingga titik darah penghabisan,” tandas Gatot, salah satu warga yang juga pengikut pengelola makam Mbah Priok, saat dijumpai di kawasan makam tersebut.