Showing posts with label Buku. Show all posts
Showing posts with label Buku. Show all posts

5 Buku dilarang beredar

5 Buku dilarang beredar, Kejaksaan Agung selama 2009 telah melakukan penelitian terhadap lima buku yang kesimpulannya harus dilarang beredar. "Lima buku itu semuanya dilarang beredar," kata mantan Jaksa Agung Muda Intelijen yang baru dilantik menjadi Jaksa Agung Muda Bidang Pembinaan, Iskamto, di Jakarta, tadi malam.

Kelima buku yang dilarang beredar itu, yakni,
Dalih Pembunuhan Massal Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto karangan John Rosa,
Suara Gereja bagi Umat Tertindas Penderitaan,
Tetesan Darah dan Cucuran Air Mata Tuhan di Papua Barat Harus Diakhi karangan Cocratez Sofyan Yoman,
Lekra Tak Membakar Buku Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965 karangan Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan,
Enam Jalan Menuju Tuhan karangan Darmawan MM, dan
Mengungkap Misteri Keberagaman Agama karangan Syahrudin Ahmad.

Disamping itu, Iskamto juga mengatakan selama 2009, Kejagung melakukan pengawasan terhadap aliran kepercayaan yang berpotensi menimbulkan keresahan di masyarakat.

Aliran yang diawasi itu, yakni, Aliran Perguruan Santi Loka yang dikembangkan oleh Ahmad Marwani di Mojokerto, Jawa Timur; Agama Mahawi di daerah Blitar, Bantul, Jawa Timur, dan Aliran Jemaat Kemuliaan Allah yang dikembangkan oleh Herman Kemala di Manado.

"Kemudian, aliran Satrio Piningit Weteng Buwono yg dikembangkan oleh Agus Prayitno di Pasar Minggu, Jaksel. Selanjutnya, ajaran Istijenar Raksa Gunung Rinjani yang dikembangkan oleh Abdullah Ahmad Bakri di Lombok Timur, NTB," katanya.

Ia menambahkan pencapaian yang dilakukan oleh intelijen Kejagung, yakni melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan SKB (Surat Keputusan Bersama) antara Menag, Jaksa Agung, dan Depdagri tentang peringatan, pelarangan terhadap penganut Jamaah Ahmadiyah.

"Selain itu, Kejagung selama 2009 melakukan pencegahan ke luar negeri sebanyak 166 orang, melaksanakan perpanjangan cegak sebanyak 82 orang, dan melakukan pencabutan pencegahan sebanyak 26 orang," katanya.

Buku Terbaik sepanjang tahun

Buku terbaik merupakan merupakan hal yang anda harus koleksi di perpustakaan pribadi anda, selain Dunia maya yang menyediakan berbagai macam bacaan dari urusan politik sampai urusan rancang ada di dunia maya, berikut 10 buku terbaik versi Oprah Megazine yang mudaha-mudahan bisa menambah wawasan

1. ''The Bolter'' karya Frances Osborne

Buku ini mengisahkan kronik kehidupan Idina Sackville, seorang perempuan Inggris yang menentang adat kebiasaan dengan memiliki begitu banyak kekasih dan memilih kehidupan asing di Kenya pada 1928. Pembaca dihadapkan dengan pertanyaan, apakah Sackville seorang protofeminist layaknya Isak Dinesen yang menjunjung tinggi kebebasan atau sekadar gadis kaya yang manja dan mencintai skandal? Melalui buku ini, Frances Osborne yang tak lain merupakan cicit Sackville berusaha melacak jejak petualangan nenek moyangnya yang gegabah dan sedikit ''gila.''

2. ''Dreaming in Hindi'' karya Katherine Russell Rich
''Dreaming in Hindi'' mengisahkan kesialan beruntun yang dialami penulisnya, Katherine Russel Rich. Setelah dua tahun berjuang melawan kanker dan dipecat dari pekerjaan, Rich kehilangan kata-kata untuk menggambarkan betapa buruk nasib yang dialaminya. Buku ini merupakan kisah menawan dan emosional tentang perjalanan Rich ke India, tempat ia mencoba menguasai bahasa asing yang rumit sampai akhirnya menguasai bahasa kemungkinan.

3. ''Little Bee'' karya Chris Cleave

Sebuah memori mengerikan menyatukan dua perempuan yang sama sekali berbeda. Perempuan pertama adalah seorang pengungsi muda asal Nigeria yang bertabiat masam namun cerdik dan g baru saja keluar dari pusat penahanan Inggris. Sementara perempuan yang satu lagi adalah editor majalah mode perempuan Inggris. ''Little Bee'' mengisahkan tentang kengerian dan keindahan secara sekaligus.

4. ''Blame'' karya Michelle Huneven

Licik namun berhati tulus. ''Blame'' mengisahkan tentang Patsy Maclemoore, seorang profesor sejarah berusia 20-an tahun yang sedikit liar dan terlibat dalam tindak kriminal yang berhubungan dengan alkohol. Patsy berhasil menemukan penebusan, namun berakhir dengan mempertanyakan moralnya sendiri di kemudian hari.

5. ''Losing Mum and Pup'' karya Christopher Buckly

Kehidupan Christopher Buckly tidak seperti kehidupan yang dimiliki banyak orang. Orangtuanya adalah William F. dan Patricia Buckley, figur intelektual dan sosial di East Coast. ''Losing Mum and Pup'' merupakan memoar Buckly tentang tahun-tahun setelah kematian kedua orangtuanya dan rasa kehilangan yang mendera. ''Orang-orang terkasih kadang-kadang melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan,'' katanya. Namun dirinya tetap mengasihi mereka.

6. ''Zeitoun'' karya Dave Eggers

Novel karya Dave Eggers ini mengisahkan seorang kontraktor Suriah yang seharusnya dihargai atas kerja tanpa pamrihnya di New Orleans selama dan setelah bencana badai Katrina, namun malah dikurung di dalam penjara darurat layaknya hewan. Buku ini merupakan sebuah karya masterpiece dengan gaya pelaporan memilukan tentang salah satu momen memalukan dalam sejarah Amerika.

7. ''Say You're One of Them'' karya Uwem Akpan
Hanya Uwen Akpan, seorang penulis Nigeria sekaligus imam Yesuit, yang mampu membimbing pembaca melewati medan keputusasaan, dari jalanan kumuh di Nairobi hingga kecamuk perang di Rwanda, dengan segenggam harapan di kepalan tangan. Kisah tentang pemerkosaan, pembunuhan, dan perbudakan anak-anak di dalam novel ini tidak tertanggungkan. Dikisahkan sebagian besar oleh anak-anak itu sendiri, ''Say You're One of Them'' membuat kita tersentuh dan tergerak melantunkan doa untuk dunia yang lebih baik.

8. ''Some Things That Meant the World to Me'' karya Joshua Mohn
Temui Rhonda, seorang lelaki yang tenggelam dalam jeratan alkohol sebagai sebuah penebusan. Baris pertama novel dibuka dengan kalimat yang memicu intrik, ''Aku ingin bercerita tentang suatu malam ketika aku menyelamatkan hidup seorang pelacur.''

9. ''The Invisible Mountain'' karya Carolina De Robertis
Novel ini mengisahkan tiga generasi perempuan berkuasa yang bernafsu melawan politik abad ke-20 di Amerika Selatan. Layaknya novel-novel terbaik lainnya, ''The Invisible Mountain'' menceritakan kisah menarik tentang identitas, tempat, dan waktu.

10. ''Strength in What Remains: A Journey of Remembrance and Forgiveness'' karya Tracy Kidder
Novel ini diangkat dari kisah nyata yang memikat tentang seorang lelaki bernama Cleo, yang setelah menyaksikan kehancuran tanah kelahirannya Burundi, terpaksa menghadapi kemiskinan dan penghinaan di Amerika. Namun semua itu tidak mampu menghancurkannya, justru membuatnya bangkit dan bertahan. Kidder menggambarkan secara jelas, pengalaman mendaki gunung selama 14 jam membuat seseorang menyadari bahwa melanjutkan hidup menunjukkan kekuatan, dan beberapa hal lebih penting daripada kesedihan

Buku PPKn Menyesatkan Hebohkan Lumajang

Buku PPKn Menyesatkan Hebohkan Lumajang ; Dinas Pendidikan Lumajang akan menarik lembar kerja siswa (LKS) Pendamping Buku Sekolah Elektronik (BSE) mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) untuk Siswa kelas 4 Semester 2 yang dianggap penyesatan. Dinas Pendidikan membentuk tim untuk melakukan penyelidikan terkait isi LKS Forum terbitan Lentera Ilmu Surabaya. Isi materinya adalah jumlah anggota legislatif yang tidak sesuai UU nomor 10 tahun 2008.

"Kami masih menyelidiki, terkait LKS yang tidak up to date dan membodohi siswa," kata Kabid TK/SD Dispendik Lumajang, Abdul Razak pada detiksurabaya.com, Selasa (13/4/2010). Menurut dia, pihaknya akan mengkaji isi materi tentang penyesatan jumlah anggota Legislatif. "Jika materinya salah, kami akan meminta penerbit untuk bertanggung jawab. Jika tidak kami yang akan menarik dari peredaran," lanjutnya.


Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Lumajang Win Hatno Hari Surya mengatakan, pihaknya akan mengklarifikasi terkait kesalahan dalam lembar kerja siswa yang diterbitkan Lentera Ilmu. Apalagi kata Win LKS itu menjadi acuan pembuatan soal UTS kelas 4 oleh Forum Kerja Guru Guslah 4 Kecamatan Lumajang. "Kami akan panggil para guru yang membuat soal, untuk mengklarifikasi," ungkapnya.

Wali murid di Lumajang heboh, pasalnya isi dan materi lembar kerja siswa (LKS) pendamping Buku Sekolah Elektronik (BSE) mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) untuk siswa kelas 4 SD semester 2 dianggap menyesatkan. Pasalnya LKSyang diterbitkan dan dicetak Lentera Ilmu di Surabaya itu dengan materi lembaga negara yang membahas jumlah anggota MPR dan DPR tidak seusai dengan UU nomor 10 tahun 2008 tentang Pemilu.

Dewan Pendidikan Desak Penarikan Buku PPKn Menyesatkan

Dewan Pendidikan Lumajang, Jawa Timur, mendesak penarikan buku Lembar Kerja Siswa PPKn terbitan Lentera Ilmu yang dinilai menyesatkan dari peredaran. Penarikan ini harus dilakukan karena buku tersebut tidak memenuhi standar kelayakan untuk diedarkan. “Buku yang sudah diedarkan itu harus ditarik dari peredaran,” tegas Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Lumajang Samsul Huda saat dihubungi melalui telepon, Selasa (13/4).

Dinas Pendidikan Kabupaten Lumajang, kata Samsul, juga harus memberikan pembinaan kepada para guru sehingga dalam membuat soal ujian tidak mengacu pada buku yang materinya salah. Samsul juga menambahkan, Dinas Pendidikan harus membawa persoalan ini ke Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.

Lantaran penerbitnya dari Surabaya, bisa jadi, kata Samsul, LKS tersebut tidak hanya beredar di Kabupaten Lumajang saja. “Bisa jadi LKS tersebut beredar di seluruh Jawa Timur."

Samsul juga menduga kalau LKS tersebut tidak memiliki izin edar dari Direktorat. Terdapat sejumlah kesalahan dalam pembuatan soal Uji Kompetensi Tengah Semester II Tahun Pelajaran 2009/2010 Kelas IV Sekolah Dasar oleh Kelompok Kerja Guru Guslah IV. Soal-soal didasarkan pada buku PPKn terbitan Lentera Ilmu.

Kesalahannya Buku PPKn Menyesatkan antara lain, tentang jumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI. Pada pilihan jawaban dicantumkan angka 700 orang, 600 orang, 500 orang, dan 400 orang. Padahal jumlah yang sebenarnya 560 orang. Pada bagian lain disebutkan bahwa 500 orang anggota DPR tersebut, 462 orang dipilih secara langsung oleh rakyat dan 38 orang dari unsur TNI dan Polri. Padahal seluruh anggota DPR adalah dipilih langsung.