Showing posts with label keluarga. Show all posts
Showing posts with label keluarga. Show all posts

Cara Agar Istri Bersahabat dengan Mertua

Cara Agar Istri Bersahabat dengan Mertua ; Agar Istri Bersahabat dengan Mertua ; ADA kesan buruk dalam relasi seorang wanita atau istri dengan mertuanya (orangtua suaminya). Banyak wanita meletakkan hubungannya dengan mertuanya dalam relasi yang antagonis. Sering kita menemukan para istri yang menaruh curiga dan prasangka buruk kepada ayah atau ibu mertuanya dalam banyak hal.

Tak heran jika banyak wanita, sebelum memasuki kehidupan rumah tangga, menyusun di dalam benaknya berbagai cara yang mesti ditempuhnya dalam menghadapi ayah dan ibu mertuanya nanti, supaya dia dapat menghindari kelicikan-kelicikan keduanya. Dia akan senantiasa mengawasi setiap kata yang diucapkan ayah atau ibu mertuanya dan mengawasi setiap gerak-gerik yang dilakukannya serta menyusun cerita-cerita dan isu-isu mengenainya.

Sehingga kemudian terjalinlah benang-benang kebencian di antara keduanya, lantas terjadilah pembangkangan dan kedurhakaan terhadap orangtua. Tak ayal, hilanglah keberkahan dan kebaikan dalam berumahtangga. Yang menjadi penyebab kurang harmonisnya hubungan mertua-menantu, menurut Anna Surti Ariani, seorang psikolog keluarga –sebagaimana dikutip dari situs Radio Nederland Wereldomroep— pada saat kita mencintai seseorang, itu tidak satu paket dengan mencintai orang tua dia. Masih menurut Anna Surti, friksi paling sering adalah antara menantu perempuan dan mertua perempuan. Dan friksi itu bertambah kalau sudah menyangkut pendidikan anak atau cucu.

Tentunya, hal-hal yang tidak diinginkan seperti di atas haruslah dilenyapkan demi kehidupan rumah tangga yang bahagia. Di dalam bukunya, Kaifa Takuni Imra`ah Jamilah wa Mahbubah, Ru’a Yusuf menuliskan beberapa tips bagi seorang istri agar bisa menjalin hubungan harmonis dan komunkasi baik dengan mertuanya, yaitu:

1. Dia harus mengusir citra buruk tentang ibu mertuanya dari benaknya dan memosisikan ibu suaminya itu tak ubahnya ibunya sendiri. Jika suatu hari ibu mertuanya berbuat kesalahan kepadanya, maka dia harus memperlakukannya sama seperti dia memperlakukan ibunya sendiri, ketika ibunya bersalah kepadanya.

2. Dia tidak boleh menceritakan kepada suami segala sesuatu yang terjadi antara dia dengan ibu suaminya sambil menangis atau bercucuran air mata untuk menarik simpati suaminya. Karena dikhawatirkan setan akan mengintervensi sang suami dengan membisikkannya bahwa ibunya bertindak zalim dan sewenang-wenang, dan memicu kedurhakaan.

3. Seorang istri yang baik tidak akan melarang suaminya untuk memberikan sesuatu kepada ibunya (ibu mertuanya). Bahkan dia akan mendorong suaminya untuk banyak memberi kepadanya ibunya dan dia pun akan berusaha memberi mertuanya berbagai pemberian dan hadiah berharga lainnya.

4. Jika dia mengunjungi ibu mertuanya, ada baiknya dia menampakkan perhatian dengan membawa masakan atau makanan. Dia merasa enggan menjadi tamu yang merepotkan atau menyusahkan.

5. Istri yang cerdas adalah istri yang mampu menawan hati ibu mertuanya dengan kebaikan sikapnya dan kemuliaan akhlaknya. Jika di rumah ibu mertuanya ada tamu atau orang-orang diundangnya untuk datang ke rumahnya, maka dia akan membantu ibu mertuanya, dan tidak hanya duduk seperti layaknya tamu kehormatan.

6. Istri yang terhormat selalu mengajari anak-anaknya agar menghormati serta mematuhi nenek dan kakek mereka. Dia akan menanamkan kecintaan dan kasih sayang kepada keduanya di hari mereka, serta membiasakan mereka untuk mengunjungi keduanya.

7. Demikian juga, dia senantiasa mengajari anak-anaknya tata krama pada saat berkunjung ke nenek dan kakek mereka. Dia tidak akan membiarkan anak-anaknya membuat mertuanya merasa tidak nyaman. Dengan demikian, sang mertua pun selalu berharap agar mereka dikunjungi cucu-cucu mereka setiap hari.

8. Apabila ternyata dia dan mertuanya sama-sama memiliki permintaan kepada suaminya, kira-kira apa yang akan dilakukan istri? Tentunya dia tidak akan mengubah rumahnya menjadi neraka sampai suaminya mau memenuhi permintaannya terlebih dulu sebelum memenuhi permintaan mertuanya. Dia pasti akan menginstruksikan suaminya untuk mendahulukan permintaan ayah dan ibunya. Pastinya dia tidak akan menyulut api kemarahan dan kebencian serta mengerek bendera boikot antara dirinya dengan suami hanya karena permintaannya terakhir dipenuhi. Karena jika mertuanya melihat sikap mengalah, itsar (mendahulukan orang lain), dan penghormatan menantunya, maka keduanya tentu akan mengalah dalam banyak hal nantinya.

Dengan demikian, solidaritas seorang menantu itu harus lebih besar. Karena bagaimana pun faktanya, si menantu hidup dalam masa yang berbeda dengan mertuanya, sehingga menyebabkan terjadinya salah persepsi atas perbedaan-perbedaan yang dianggap tidak sopan atau diasumsikan secara negatif. Berinteraksilah dengan mertua sebagaimana berinteraksi dengan orangtua sendiri. Perlakukanlah mertua seperti memperlakukan orangtua sendiri.

Semua yang dilakukan oleh orangtua suami terkadang hanyalah cemburu belaka, karena anak yang sedianya senantiasa selalu memperhatikannya, kini terbagi perhatiannya, bahkan kadang perhatian itu menjadi lebih sedikit terhadap kedua orangtuanya, malah lebih banyak kepada kita, sebagai istrinya. Maka ingatkanlah suami untuk selalu memperhatikan orangtuanya yang sudah membesarkannya.

TIPS BERTENGKAR DI DEPAN ANAK

TIPS BERTENGKAR DI DEPAN ANAK , Boleh saja berargumentasi di depan anak, jika memang tak bisa dihindarkan. Namun, ada beberapa trik yang harus Anda ketahui, agar acara bertengkar tak merusak mental anak. Sering kali kita mendengar orang mengatakan, “Jangan bertengkar di depan anak-anak, tidak baik!” Lalu, jika kondisi itu tak bisa dicegah, bagaimana? Setiap orang pasti pernah bertengkar. Perlu diketahui, bertengkar merupakan cara bertahan yang paling alami untuk hidup. Tak ada satu hubungan atau perkawinan pun yang berjalan tanpa konflik.

Banyak orang menjalin suatu hubungan percintaan atau perkawinan tanpa mengetahui bagaimana cara mempertahankan hak-hak mereka. Sebab, kita sering diajarkan, berkelahi itu berbahaya atau tidak berguna. Bahkan, bisa mengakibatkan trauma bagi masa pertumbuhan anak di dalam keluarga yang agresif. Atau, tak berguna bagi anak melalui rasa frustrasi, jika dia dibesarkan di dalam lingkungan yang memberikan perlindungan maupun kendali yang berlebihan.


Bahkan, ada anak yang sudah dewasa tak tahu bagaimana caranya bertengkar karena mereka tak pernah menyaksikan kedua orangtuanya bertengkar. Sejak lama pula para psikolog dan penasehat keluarga menyadari, pertengkaran dapat berdampak buruk bagi anak-anak.

Konflik secara lisan, dengan saling meremehkan atau tiba-tiba meledak dan mengancam, merupakan racun bagi kesehatan emosional dan fisik anak-anak. Sebuah penelitian mengukur tingkatan stres dilakukan pada anak-anak yang pernah melihat orangtuanya bertengkar, hasilnya: detak jantung meningkat, nafas menjadi lebih cepat, dan aktivitas kelenjar keringat menjadi lebih banyak. Anak-anak menjadi lebih sering sakit, cenderung lebih agresif, lebih banyak depresi, gelisah, dan tak bisa tidur senyenyak anak-anak yang berasal dari keluarga dengan tingkat konflik yang lebih rendah.

Lalu, bagaimana dampak pada anak-anak yang tak pernah atau jarang menyaksikan pertengkaran atau percekcokan kedua orangtuanya? Biasanya mereka tidak bisa menuntut haknya dan sering tidak tahu bagaimana membela temannya saat diganggu. Mereka juga cenderung takut berkonflik dan menjadi gelisah berlebihan bila masuk ke dalam situasi yang baru. Bagi mereka, keberhasilan suatu persahabatan dilihat dari tidak pernah terjadinya pertengkaran atau perselisihan paham.

Jadi, kapan “bertengkar yang baik” bisa dilakukan di hadapan anak-anak? Memperhatikan orangtua yang bertengkar memang bisa menakutkan bagi anak-anak. Tapi, melihat orang tua mereka menyelesaikan perbedaan dengan cara yang positif, jutsru bisa memberikan rasa aman bagi anak-anak. Bila anak-anak bisa belajar dari pasangan dan keluarga yang bisa hidup bersama, meskipun melewati saat-saat yang memanas, mereka akan lebih mudah menjalani hidup di kemudian hari.

Sebagai individu, mereka akan mampu menuntut haknya dan sebagai pasangan mereka akan mengerti, setiap orang boleh memiliki perbedaan pendapat dan tetap saling mencintai. Sehingga, kelak mereka menjadi orangtua, akan bisa lebih baik dalam mengatasi tantangan yang dibawa di hadapan anak-anaknya.

Sebab, konflik terjadi di mana-mana dan merupakan hal yang wajar terjadi pada siapapun. Oleh karena itu, penting mengajarkan kepada anak-anak mengenai rasa marah. Anak-anak toh, menyaksikan kekejaman di dalam kehidupan sehari-hari melalui media cetak ataupun elektronik. Dengan menyaksikan semua kekejaman itu, melalui “bertengkar yang baik” anak-anak dapat belajar, memiliki rasa marah adalah sesuatu wajar, tapi menyakiti sesama bukanlah merupakan sikap terpuji.

Jadi, mereka bisa mengenali perasaan marah, baik dalam diri sendiri maupun orang lain, serta belajar cara mengendalikannya. Mereka bisa belajar teknik menenangkan diri dan mengomunikasikan perasaan marah dengan cara positif. Mereka pun bisa melihat hasil dari pemecahan suatu masalah, dan yang terpenting, belajar bagaimana cara pergi dari situasi yang kasar ataupun kejam.