Showing posts with label jupe. Show all posts
Showing posts with label jupe. Show all posts

Julia Perez Bakal Calon Bupati Pacitan

Julia Perez Bakal Calon Bupati Pacitan, Julia Perez merasa tersanjung saat dirinya dipinang sebagai salah satu calon bupati kota Pacitan. Kendati telah dipinang jadi calon bupati, namun artis yang akrab dipanggil Jupe ini belum mau banyak bicara soal pencalonan dirinya tersebut. "Memang benar mereka meminang aku sebagai calon bupati. Tapi sampai sekarang belum ada promo atau kampanye apapun, baru di audisi," kata Jupe saat dihubungi via telepon selularnya, Senin (29/3).

Teman dekat Gaston Castano ini juga mengaku siap bertarung dengan kandidat yang lain. Nama Sarah Azhari pun kabarnya disebut-sebut sebagai salah satu kandidat tersebut. "Pencalonan ini membuat saya bangga, tersanjung sekaligus terharu. Akhirnya masih ada yang melihat saya dari sisi positif dan bukan hanya negatifnya saja," ujar Jupe berterus terang.

Jupe sendiri mengaku sudah mempersiapkan program-program khusus, jika nanti ia terpilih sebagai Bupati Pacitan. "Sudah ada, tapi masih rahasia dong. Lagian saya baru bulan Juli ini 30 tahun, kan syarat usianya harus 30 tahun dulu," ucapnya menambahkan.

Dalam waktu dekat Jupe juga akan mengunjungi kota Pacitan, yang diketahui sebagai kota kelahiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini. "Kebetulan aku punya teman orang Pacitan, dia bilang disana terkenal dengan pantai sebagai pariwisata dan seribu satu goa nya," kata Jupe.

Julia Perez terpilih sebagai manajer Timnas Indonesia

Julia Perez terpilih sebagai manajer Timnas Indonesia, Sejak bergelut lebih dalam di dunia sepak bola Indonesia, Julia Perez kabarnya terpilih sebagai manajer Timnas Indonesia.

Julia Perez mengaku serius ingin memajukan olahraga sepakbola di Indonesia. Tak heran jika Jupe yang membuka sekolah untuk sepakbola ini, merasa siap untuk menduduki posisi manajer Timnas Indonesia.

"Saya bersedia, apapun bentuknya kalau untuk kepentingan bangsa, saya rela nggak dibayar. Apalagi kalau untuk kemajuan sepakbola di Indonesia," kata Jupe yang dihubungi VIVAnews via telepon, 29 Maret 2010. Menurut wanita yang memiliki orangtua sebagai mantan atlet sepakbola ini, ia merasa siap untuk memaintain dunia sepakbola dan manajemennya.

"Selama ini prestasi olahraga sepakbola kita memang masih kurang, peran saya sebagai manajer nantinya, seperti layaknya seorang ibu yang bisa mengatur semuanya, bukan hanya masalah keuangannya saja, tapi manajer memegang peranan penting dibalik layar untuk kesuksesan tim," kata Jupe.

Peraturan Tentang Pencalonan Artis di Pilkada

Peraturan Tentang Pencalonan Artis di Pilkada ; Majunya sejumlah artis di pilkada meresahkan pemerintah. Mendagri Gamawan Fauzi bakal mengajukan tambahan persyaratan calon kepala daerah-wakil kepala daerah. Dari 16 syarat yang sudah ada, akan ditambah satu lagi yakni harus pengalaman di bidang pemerintahan. Kemendagri saat ini sedang merumuskan persyaratan tambahan ini, yang nantinya akan dimasukkan ke draf RUU revisi UU Nomor 32 Tahun 2004.

Gamawan menjelaskan, dengan persyaratan yang ada sekarang, mendorong banyak orang berminat maju di pilkada, tertutama yang merasa dirinya populer. Dengan latar belakangan yang beragam, hal ini ke depan malah bisa memperlemah pemerintahan. Padahgal, agar pemerintahan kuat, maka harus dipimpin orang-orang yang layak. "Pemerintah itu mesti diisi dengan orang-orang yang qualified. Maksud kita seperti itu untuk menambahkan syarat itu. Jangan semua orang yang merasa populer merasa sudah bisa jadi kepala daerah," papar Gamawan Fauzi di kantornya, Senin (12/4).

Dijelaskan Gamawan, seorang kepala daerah punya kewajiban yang tidak ringan. Dia harus mewujudkan visi dan misinya, yang kemudian dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM ) menjadi visi daerah. "Tidak mudah," tegasnya.

Yang lebih mengkhawatirkan, sejumlah artis yang maju di pilkada, justru untuk pilkada tingkat kabupaten/kota. Padahal, lanjut Gamawan, pemerintah kabupaten/kota itu kewenangannya besar. Jika bupati/walikota dijabat orang yang tak punya pengalaman di pemerintahan, kata Gamawan, maka visi pembangunan daerah tersebut menjadi tidak jelas. "Jadi ini justru untuk memperkuat pemerintahan ini. Jangan demokrasi semakin kuat, pemerintah justru lemah," kata mantan gubernur Sumbar itu.

Lantas, apa kriteria pengalaman di bidang pemerintahan itu? Gamawan menjelaskan, yang dimaksud bukan hanya pegawai negeri saja, tapi juga termasuk aktivis partai, anggota DPR/DPRD, termasuk organisasi yang punya kaitan dengan bidang pemerintahan. "Kalau nol sama sekali, di organisasai tidak pernah, di partai tidak pernah, tiba tiba karena populer semua orang berhak menjadi kepala daerah. Ini kan pertaruhan kita terlalu berat untuk kemajuan sebuah daerah," papar Gamawan.

Gamawan tidak membantah persyaratan tambahan ini dipicu banyaknya artis maju di pilkada. Namun, katanya, juga karena adanya pedagang yang juga ikut mengincar kursi kepala daerah. "Saya dengar ada pedagang batubara yang mencalonkan karena dia punya uang dan populer, tiba-tiba mencalonkan diri," ucapnya.

Sementara, Kapuspen Kemendagri, Saut Situmorang, menjelaskan, saat ini Kemendagri sedang mempersiapkan rumusan persyaratan tambahan itu yang nantinya dimasukkan ke draf RUU tentang revisi UU 32. Tahapannya, dibahas di internal pemerintah, melibatkan kementrian terkait. Selanjutnya, hasilnya nanti akan dibahas di sidang kabinet untuk mendapatkan masukan-masukan. Lantas dirumuskan lagi, jika sudah siap diajukan ke presiden. Bila presiden setuju, akan dituangkan ke RUU yang selanjutnya diajukan ke DPR untuk dibahas.

Seperti ramai diberitakan, sejumlah artis ikut maju di pilkada 2010 ini. Setelah Ayu Ashari gagal maju di pilkada Sukabumi, muncul Julia Perez alias Jupe yang akan ikut pilkada Pacitan. Muncul lagi nama Maria Eva yang disebut-sebut bakal maju di pilkada Sukohardjo, pelawak Bolot di pilkada Tangerang Selatan, dan Ikang Fauzi di pilkada Kabupaten Lampung Selatan,

Julia Perez Dalam Pemilukada Pacitan dan Rasionalitas Pemilih

Julia Perez Dalam Pemilukada Pacitan dan Rasionalitas Pemilih ; Publik gerah terkena dampak sensasional Julia Perez (Jupe) yang kini tengah digadang-gadang maju dalam pencalonan Wakil Bupati Pacitan. Banyak yang tidak percaya perempuan seksi yang lebih dikenal lewat akting seksinya di layar lebar, ingin masuk meramaikan bursa pencalonan Wakil Bupati.

Ranah prestisius kekuasan politis yang disebut-sebut wilayah atau domain laki-laki ini, coba diraih oleh bintang seksi yang aktingnya dalam film Hantu Jamu Gendong yang bercerita tentang seorang penjual jamu gendong yang mati karena diperkosa lalu jadi hantu seksi yang gentayangan.

Julia Perez, atau sering disingkat Jupe (lahir 15 Juni 1980 terlahir dengan nama Yuli Rachmawati) adalah penyanyi dangdut, model, pemain sinetron dan presenter Indonesia. Ia seringkali berpenampilan dan berfoto seksi dan dijuluki "bom seks".

Ia memulai karirnya di Perancis. Perkenalannya dengan model pria Damien Perez (Yusuf Perez) yang kemudian menjadi suaminya membuka kesempatan awal dirinya tampil sebagai model majalah FHM dan Maxim di Perancis. Dengan penampilannya dalam FHM dan Maxim, Jupe mendapat nominasi 100 wanita terseksi versi majalah FHM dan Maxim.

Aksi perempuan cantik ini tetap terus meski puluhan perempuan yang tergabung dalam Aliansi Perempuan Pacitan menggelar aksi penolakan terhadap pencalonan Julia Perez (Jupe) sebagai bakal calon wakil bupati Pacitan dalam pilkada 20 Desember 2010 mendatang.

Jupe ditolak melalui berbagai orasi yang menghujat pencalonan Jupe. Massa juga mencari dukungan dengan menggelar tanda tangan menolak pencalonan Jupe di Pacitan dalam aksi yang digelar di Jalan Raya Panglima Sudirman. Salah seorang koordinator aksi, Ririn Subiyanti, mengatakan, hak untuk mencalonkan diri sebagai bupati atau wakil bupati Pacitan adalah menjadi hak pribadi warga negara Indonesia. Akan tetapi, harus diketahui latar belakang calon yang akan memimpin rakyat Pacitan.

Menurut Ririn, ada 10 alasan warga menolak Jupe. Salah satunya adalah indikasi artis itu melanggar Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi dalam setiap pose foto dan aktingnya. Selain itu, Jupe bukan warga Pacitan yang mengerti kebutuhan warga setempat. Meski kontroversial, majunya Jupe ini membuat Pacitan kota kecil tempat kelahiran SBY ini menjadi buah bibir dan mulai dilirik orang.
"Secara etika, kami tak mau dipimpin perempuan yang tak memberikan contoh perilaku baik bagi warga Pacitan," tambahnya kepada sejumlah wartawan. Hal yang sama diungkapkan aktivis perempuan lainnya, Esty Kusumawati. Warga Pacitan ini mengaku, Jupe tak memiliki kapasitas dan kredibilitas untuk memimpin Kabupaten Pacitan. Bahkan, soal status pernikahan Jupe yang tak jelas disinggungnya pula. "Yang jelas, orang pintar akan menolak pencalonan Jupe. Wong memimpin keluarganya sendiri tak bisa, apalagi memimpin warga Pacitan. Jelas tidak akan mewujudkan perubahan nasib bagi warga Pacitan," katanya.

Sementara itu, seusai membubuhkan tanda tangan dukungan menolak pencalonan Jupe, Esty menambahkan, warga Pacitan masih banyak yang pintar dan pandai serta memiliki etika untuk membangun Kabupaten Pacitan. "Kami tak mau dipimpin orang seperti Jupe," tandasnya.

Itu yang menolak, yang mendukung juga banyak. Menurut Renny Djajusman artis bergaya nyentrik itu, Jupe mempunyai nyali dan sulit dikendalikan jika mempunyai kemauan. "Dia anak muda yang kreatif, punya nyali, dan kalau sudah ada keinginan, susah untuk mengendalikannya," kata Renny Djajusman saat ditemui di acara ’Deklarasi Yayasan Peduli Artis dan Seniman’ di Warung Daun, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat,
Renny mengaku sudah kenal lama dengan pelantun ’Belah Duren’ itu. Banyak sisi positif yang bisa dibanggakan dari sosok Jupe. Kalau pun banyak kontroversi dan keraguan Jupe untuk memimpin Pacitan, itu dikarenakan banyak orang melihat keseksian Jupe dan aksi sesualnya di layar lebar.

Masalahnya sekarang, apakah kota Pacitan akan menyusul Kabupaten Tangerang atau Provinsi Jawa Barat yang menempatkan dua artis terkenal Dede Yusuf yang akhirnya menjadi Wakil Gubernur Jawa Barat dan `si Doel’ Rano Karno yang akhirnya terpilih menjadi Wakil Bupati Tangerang? Atau kandas seperti sejumlah artis yang mencoba peruntungan di jalur Pilkada seperti Marisa Haque yang gagal dalam Pilkada Banten atau Ayu Azhari. Ayu Azhari sebenarnya diminta dalam proses penjaringan Calon wakil bupati Pacitan, akhirnya mundur dengan alasan masih trauma kegagalannya dalam bursa Pilkada Sukabumi, Jawa Barat.

Apakah pemilih di pilkada Pacitan sungguh-sungguh memilih orang yang tepat dan memang memiliki kemampuan untuk memimpin Kabupaten Pacitan atau hanya tertarik dengan sosok Jupe yang terkenal dan populer di tengah warga gara-gara aksi sensual dan seksinya di layar film? Masihkah ada rasionalitas di kalangan pemilih aktif di Pacitan?

Calon wakil bupati?

Sebagai warga negara yang memiliki hak yang sama sebenarnya tak ada satu alasanpun yang bisa menghambat pencalonan Jupe, apalagi bila proses pencalonannya telah melalui partai politik sesuai aturan KPU setempat.

Sebagai lokasi tempat Jupe bakal maju dalam pilkada, Pacitan tak sebesar Jakarta dengan kompleksitas permasalahannya. Meski begitu ibarat magnet besar, kehadiran sejumlah artis cantik dalam pilkada membuat pamor kota kecil itu naik.

Besar kemungkinan sosok Julia Perez, dan sejumlah nama lain juga digadang-gadang parpol adalah berasal dari artis terkenal. Selain nama artis seksi Julia Perez (Jupe) tercatat dalam penjaringan Bakal Calon Wakil Bupati Pacitan, Jawa Timur, nama penyanyi dangdut Cici Paramida juga masuk.

Koordinator delapan parpol di Pacitan yang tergabung dalam koalisi amanat persatuan rakyat (Ampera), Sutikno mengemukakan itu di Pacitan awal April. Delapan parpol dimaksud, masing-masing adalah Partai Hanura, PAN, Gerindra, PBB, Patriot, PDP, PKPB, serta PKPI.

"Masuknya nama Julia Perez serta Cici Paramida ini kami sampaikan berdasar hasil penjaringan sementara. Tidak menutup kemungkinan nanti akan muncul nama-nama artis lain," kata Sutikno mengungkapkan.

Selain Jupe dan Cici, nama dua artis bersaudara Ayu Azhari dan Sarah Azhari juga sempat meramaikan bursa penjaringan yang digelar sejak awal Maret lalu. Namun, keduanya lantas mengundurkan diri. Versi Sutikno, Sarah mundur dengan alasan merasa tidak nyaman karena harus bersaing dengan kakaknya, Ayu Azhari. Sementara Ayu sendiri, akhirnya juga ikut mundur dengan alasan masih trauma kegagalannya dalam bursa Pilkada Sukabumi, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Artis-artis ini akan mendampingi setidaknya sejumlah nama bakal calon bupati yang mendaftarkan diri melalui koalisi Ampera. Mereka adalah Lurah Bangunsari, Kecamatan Bandar, Sudarno; Kepala Dinas Kelautan dan Perikananan (DKP) Kabupaten Pacitan, Indartarto; serta Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Pacitan, Suyantoro.

Angin segar juga berhembus dari Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Pacitan, Damhudi, mempersilakan Julia Perez maju sebagai calon wakil bupati Pacitan periode 2011-2015. Dia menilai Julia Perez alias Jupe memiliki peluang atau kesempatan untuk bertarung dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Pacitan pada Desember 2010 mendatang.

Damhudi menyatakan, sesuai aturan, seseorang yang berhak maju mencalonkan diri sebagai bupati dan wakil bupati harus warga negara Indonesia (WNI). Selain itu, berpendidikan minimal SLTA. Sedangkan, persyaratan materil yakni jika diusung oleh partai politik atau gabungan partai politik harus memperoleh suara sah minimal 15 persen dari total suara.

Kalau saja akhirnya Jupe lolos dalam penjaringan awal bursa calon Bupati dan Wakil Bupati maka Jupe akan bersaing dengan calon yang lain untuk memperebutkan posisi di Pacitan. Pertanyaannya, apakah Jupe akan diterima ’secara rasional’ oleh warga Pacitan tanpa memperdulikan bagaimana aksi panggung dan penampilan seronok Jupe selama ini, atau warga ikut-ikutan ’menolak’ Jupe dengan tidak memberi dukungan kepada pemain film ’Sumpah ini pocong’ tersebut? Masih adakah rasionalitas para calon pemilih di Pacitan?

Rasionalitas jungkir balik

Pemilu terkadang tidak menjadi wahana yang menempatkan rasionalitas di puncak mahkotanya. Ada banyak kesempatan pilkada justru menyingkirkan orang-orang hebat dan memiliki kemampuan tetapi justru memilih orang yang sebenarnya biasa-biasa saja tapi lebih populer dan disukai. Bisa saja kemenangan di pemilu gara-gara adanya kepercayaan calon pemilih kepada calon tanpa peduli apakah dia memiliki kemampuan teknis atau tidak.

Kepercayaan pada orang-orang yang bijaksana memang sering didasarkan atas rasionalitas, tetapi bisa saja tidak. Rasionalitas adalah suatu hasil dari proses berpikir, dimana orang memiliki kapasitas untuk memberikan alasan, untuk menjalani, memberikan kebenaran tertentu, atau dengan kata lain rasionalitas adalah sesuatu yang masuk akal.

David Hume, ahli filsafat asal Skotlandia, menyatakan orang bijaksana menitikberatkan pada bukti daripada hanya sebuah kepercayaan semata. Tetapi itu menurut Hume, belum tentu sesuai untuk warga Pacitan.

Terkadang rasionalitas dijungkirbalikan dan menciptakan realitas yang lain . BIla dilihat dari arti harafiahnya, Rasionalitas adalah kemampuan dan kemauan bersikap dan bertindak dengan menggunakan akal sehat.
Manusia diharapkan terus memelihara dan mengembangkan rasionalitas dan menjauhi irasionalitas dalam kehidupannya, mengapa?

Sebab rasionalitas dan akal budi yang sehat akan membimbing pertimbangan, sikap dan tindakan seseorang, terutama dalam menghadapi pilihan-pilihan sulit. Dengan demikian, rasionalitas ibarat sebuah mercu suar yang menjadi pedoman ke mana nahkoda kapal harus mengarahkan kapal saat badai dhasyat melanda di malam yang kelam.

Atau justru yang muncul adalah irasionalitas yang masih begitu lekat dengan budaya masyarakat Indonesia khususnya di pedesaan dan pelosok kampung.

Memang bila dilihat dari sosok Jupe sendiri, dia memang terlahir bukan dari Pacitan, tidak pernah bergerak di bidang politik, dan tidak mengenal wilayah Pacitan --kota yang memintanya menjadi Wakil Bupati. tapi pertanyaannya apakah sungguh para pemilih akan menggunakan hati nuraninya saat memilih calon terbaik untuk memimpin negeri ini?
Kalau Jupe maju dan menang, apa yang bakal terjadi? Bisa saja ini akan memunculkan fakta baru tentang ’kecenderungan’ pemilih yang hanya mementingkan nama populer seorang calon ketimbang melihat dari sudut kemampuannya.

Atau kemungkinan yang lain, adalah kesadaran bahwa siapapun dia bisa menjadi pemimpin, soal citra bisa diperbaiki dan disesuaikan tetapi dampaknya sosok yang populer itu bisa menarik perhatian dan bisa memperkuat partisipasi warga untuk mendukung pembangunan.

Dampak media?

Selain soal rasionalitas dan irasionalitas warga saat pemilihan umum, bisa saja kondisi ini dipengaruhi oleh gencarnya pemberitaan media massa khususnya televisi terkait pencalonan televisi. Kebudayaan industri khususnya televisi menyamarkan jarak antara fakta dan informasi, antara informasi dan entertainment, antara entertainment dan ekses-ekses politik.

Menurut Jean Baudrillard masyarakat tidak sadar akan pengaruh simulasi dan tanda(signs/simulacra), hal ini membuat mereka kerap kali berani dan ingin "mencoba hal yang baru" yang ditawarkan oleh keadaan simulasi : membeli, memilih, bekerja dan macam sebagainya.

Konsep Baudrillard mengenai simulasi adalah tentang penciptaan kenyataan melalui model konseptual atau sesuatu yang berhubungan dengan "mitos" yang tidak dapat dilihat kebenarannya dalam kenyataan. Model ini menjadi faktor penentu pandangan kita tentang kenyataan.

Segala yang dapat menarik minat manusia : seperti seni, rumah, kebutuhan rumah tangga dan lainnya, ditayangkan melalui berbagai media dengan model-model yang ideal, disinilah batas antara simulasi dan kenyataan menjadi tercampur aduk sehingga menciptakan hyperreality dimana yang nyata dan yang tidak nyata menjadi tidak jelas.

Dalam kasus Jupe, mungkin saja warga Pacitan ’ingin mencoba’ hal yang baru dengan memiliki wakil bupati yang cantik dan menarik, dan sosok Jupe adalah ’simulacra’ baru bagi masyarakat.

Jupe merupakan sebuah mitos baru bagi warga Pacitan untuk menggaet kerjasama yang baik dikalangan warga , sebab dengan kehadiran Jupe yang cantik dan menjadi idola laki-laki diharapkan bisa menciptakan kesadaran baru warga untuk aktif dalam pembangunan.

Tanpa sadar, Jupe dijadikan sign bagi parpol pengusungnya untuk meraih sumpati dan dukungan politik. Sebagai sarana ’penggaet’ suara bagi parpol dengan menggunakan figur cantik kontroversial macam Julia Perez.

Bisa saja karena sebab lain, Jupe melejit dan meraih simpati warga karena ada fenomena baru dalam masyarakat informasi yang disebut sebagai masyarakat jaringan.

Dalam bukunya The Rise of The Network Society (2000), Manuel Castells mengatakan, revolusi teknologi yang berpusat pada teknologi informasi mulai membentuk kembali basis material dari masyarakat kita.

Perubahan-perubahan terjadi tidak hanya di bidang teknologi informasi, namun juga di bidang politik, budaya, ekonomi dan hubungan sosial. Di era informasi ini paradigma patriarkalisme banyak diserang oleh kaum feminis, relasi lelaki dan perempuan dan anak-anak dalam keluarga didefinisi ulang.

Era ini juga ditandai dengan banyaknya sistem politik yang dilanda krisis legitimasi, terkoyak di antara skandal dan intrik dan survivalitasnya tergantung pada bagaimana media.

Hal ini kemudian menempatkan media ( khususnya) elektronik menjadi ruang politik yang utama. Menurut Castells, ini yang menjadi ciri khas masyarakat informasional global, media menjadi penghubung warga negara dalam tindakan-tindakan politik mereka. Artinya warga mendapatkan informasi dan membentuk pendapat mereka melalui media massa khususnya televisi, sehingga bisa saja pilihannya terpengaruh isi media dan mengalahkan rasionalitas mereka.

Atau apakah yang bakal muncul di Pacitan adalah rasional komunikatif. Meminjam istilah Jurgen Habermas , rasionalitas komunikatif ini sudah tertanam di dalam akal budi manusia itu sendiri, dan di dalam kemampuan mereka berkomunikasi satu sama lain, sehingga akan selalu ada dan tidak mungkin dihilangkan selama manusia itu masih ada.

Habermas mau mengkritik rasionalitas masa lalu. Rasional yang lebih dipandang sebagai rasionalitas instrumental, yakni bentuk rasionalitas yang mengutamakan kontrol, dominasi atas alam ataupun manusia untuk menghasilkan efektivitas dan efisiensi, dan prioritas pada hasil yang paling maksimal.

Jika menggunakan konsep rasionalitas semacam itu, maka manusia akan terasing satu sama lain, terutama karena mereka memperlakukan manusia lainnya sebagai benda untuk mencapai tujuan mereka masing-masing.

Jika yang salah adalah rasionalitas manusia yang telah menjadi melulu instrumental, maka solusinya adalah rasionalitas yang bersifat komunikatif yang terletak di dalam kemampuan manusia untuk mencapai kesalingpengertian terhadap manusia lainnya, yakni di dalam bahasa.

Proyek pencerahan termasuk acara-acara dan berita yang diterima warga lewat televisi memang terkadang membawa dampak buruk bagi peradaban manusia, tetapi dampak baiknya juga tidak dapat dilupakan begitu saja.

Perang informasi memang memakan korban, ada ketidak percayaan di sana-sini, ada miskomunikasi dan misinformasi yang semakin besar, tetapi kemampuan manusia untuk menggunakan akal budinya juga bertambah, dan dimana sumber masalah ada, biasanya disitulah sumber solusinya.

Artinya, bisa saja Julia Peres dilihat bukan sebagai pemain film sensual yang hanya mampu mengumbar kemolekan tubuh dan keberanian aktingnya, tetapi dilihat sebagai manusia populer yang disukai dan dikenal banyak orang, dan lewat dia maka partisipasi politik di pacitan menjadi lebih baik dan pada gilirannya bisa membawa Kabupaten pacitan menjadi Kabupaten yang bisa membanggakan dan menyejahterakan warganya.

Di sisi lain lewat komunikasi yang intens warganya, akan menumbuhkan kesadaran baru bahwa siapapun bisa mendapat kesempatan untuk melakukan yang terbaik buat Pacitan, tidak peduli siapa dia dan label yang ditempelkan di punggungnya. penalaran kompas.com

Aksi Penolakan Pencalonan Julia Perez (Jupe)

Aksi Penolakan Pencalonan Julia Perez (Jupe) ; Puluhan perempuan yang tergabung dalam Aliansi Perempuan Pacitan menggelar aksi penolakan terhadap pencalonan Julia Perez (Jupe) sebagai bakal calon wakil bupati Pacitan dalam pilkada 20 Desember 2010 mendatang, Rabu (7/4/2010).

Penolakan itu mereka sampaikan melalui berbagai orasi yang menghujat pencalonan Jupe. Massa juga mencari dukungan dengan menggelar tanda tangan menolak pencalonan Jupe di Pacitan dalam aksi yang digelar di Jalan Raya Panglima Sudirman.
Salah seorang koordinator aksi, Ririn Subiyanti, mengatakan, hak untuk mencalonkan diri sebagai bupati atau wakil bupati Pacitan adalah menjadi hak pribadi warga negara Indonesia. Akan tetapi, harus diketahui latar belakang calon yang akan memimpin rakyat Pacitan.

Menurut Ririn, ada 10 alasan warga menolak Jupe. Salah satunya adalah indikasi artis itu melanggar Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi dalam setiap pose foto dan aktingnya. Selain itu, Jupe bukan warga Pacitan yang mengerti kebutuhan warga setempat.

“Secara etika, kami tak mau dipimpin perempuan yang tak memberikan contoh perilaku baik bagi warga Pacitan,” tambahnya kepada sejumlah wartawan.

Hal yang sama diungkapkan aktivis perempuan lainnya, Esty Kusumawati. Warga Pacitan ini mengaku, Jupe tak memiliki kapasitas dan kredibilitas untuk memimpin Kabupaten Pacitan. Bahkan, soal status pernikahan Jupe yang tak jelas disinggungnya pula.

“Yang jelas, orang pintar akan menolak pencalonan Jupe. Wong memimpin keluarganya sendiri tak bisa, apalagi memimpin warga Pacitan. Jelas tidak akan mewujudkan perubahan nasib bagi warga Pacitan,” katanya.

Sementara itu, seusai membubuhkan tanda tangan dukungan menolak pencalonan Jupe, Esty menambahkan, warga Pacitan masih banyak yang pintar dan pandai serta memiliki etika untuk membangun Kabupaten Pacitan. “Kami tak mau dipimpin orang seperti Jupe,” tandasnya

Jupe Berniat menutupi dadanya dengan Helm saat Kampanye

Jupe Berniat menutupi dadanya dengan Helm saat Kampanye ; MESKI belum lolos sebagai bakal calon Wakil Bupati Pacitan, artis Julia Perez sudah memiliki bayangan saat berkampanye nanti. Julia Perez (Jupe) punya kiat khusus yang bisa disebut aneh-aneh dalam menghadari keusilan massa. Untuk menghindari tangan jahil, Jupe berniat menutupi dadanya dengan helm.

Saat hadir di acara promosi film Te(rekam) di Studio XXI Mega Mall Bekasi, Jakarta Timur, Kamis (1/4) lalu, Jupe sempat ditanya apakah dirinya tidak takut dengan tangan-tangan jahil saat berkampanye nanti? Wajar saja pertanyaan tersebut terlontar mengingat imej seksi selalu melekat padanya. Jupe pun menjawab pertanyaan itu dengan cuek.

"Ya nanti tinggal ditutupin helm aja di sini, nanti 'kan yang dicolek helmnya," ujarnya.

Jika lolos seleksi, Jupe berjanji akan mengubah penampilannya. Pemilik nama asli Yuli Rachmawati itu siap mengenakan pakaian yang lebih tertutup. Menurutnya, penampilan seksinya selama ini merupakan tuntutan naskah film.

"Kalau jadi bupati 'kan cerminan masyarakat, jadi harus berubah," ucap bintang Hantu Jamu Gendong itu.

Jargon Julia Perez, Berjuang Demi Rakyat Dengan Hati Nurani Jupe mengaku telah siap baik lahir maupun batin untuk menjadi calon bupati atau wakil bupati dalam Pilkada yang akan berlangsung Desember mendatang. Secara resmi pihaknya belum membentuk tim sukses, namun telah menyiapkan jargon yang akan menjadi tagline kampanye.

"Berjuang Demi Rakyat Dengan Hati Nurani," demikian ungkap Gusti Randa, selaku penasehat hukum Jupe, dalam preskon di XXI Mega Mall Bekasi, Kamis (01/04).

Jupe ingin berkaca pada masa lalunya yang penuh kesulitan dalam menentukan program, jika terpilih sebagai bupati atau wakil bupati Pacitan. Kemiskinan dan kesulitan pendidikan pernah dirasakan, apalagi sang ibu saat itu ditinggalkan suaminya.

"Sekarang seorang Julia Rahmawati melakukan kebaikan, keberanian untuk melakukan sesuatu yang terbaik untuk bangsa ini, jadi teman-teman jangan melihat masa lalu saya," terangnya.

Sementara soal pendidikan, Jupe tidak akan menemui kendala, karena syarat mencalonkan sebagai kepala daerah hanya setingkat SMU. Apalagi pacar Gaston Castano itu pernah menyelesaikan beberapa kali pendidikan Diploma Satu. "Saya sejujurnya selesai di SMA saja, kalau kuliah D1 bahasa Belanda, D1 Prancis, D1 Sekretaris, kalau pendidikan tinggi saya tidak pendidikan tinggi," pungkasnya.http://www.klik-galamedia.com/indexnews.php?wartakode=20100406150037&idkolom=otomotifteknologi

Kontroversi Pencalonan Julia Perez di Pemilukada Pacitan

Kontroversi Pencalonan Julia Perez di Pemilukada Pacitan ; Kontroversi Julia Perez mencalonkan diri dalam Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, berlanjut di jaringan pertemanan Facebook. Banyak yang menolak, namun banyak pula yang mendukung.

Jika Anda mengetik kata "Julia Perez, Pacitan" di pencarian Facebook, akan muncul 15 grup soal itu dan satu halaman. Satu halaman tersebut berjudul "1 Jt Facebookers Tolak Julia Perez Mencalonkan Diri Sebagai Bupati Pacitan" dengan anggota 1 penggemar.
Untuk grup, sampai Kamis 1 April 2010 pukul 08.00, tercatat muncul delapan grup yang menolak pencalonan Julia Perez. Salah satu grup terbesar adalah "Tolak Julia Perez sebagai Calon Bupati Pacitan" dengan jumlah anggota 241 orang. Grup lainnya, tidak ada yang menembus angka 100 anggota dan bahkan dua grup beranggota 1 orang saja sehingga total kurang dari 500 orang.

Sementara grup yang mendukung pencalonan, hanya berjumlah enam grup. Meski enam, terdapat dua grup yang beranggota lebih dari 100 orang, yakni grup "1.000.000 Facebooker Dukung Julia Perez Calon Bupati Pacitan" dengan anggota 222 anggota dan grup "Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Julia Perez Calon Bupati Pacitan" dengan anggota 174 orang. Total gerakan mendukung ini memiliki lebih dari 500 pendukung.

Meski begitu, terdapat satu grup yang bernuansa netral yakni "Pantaskah Julia Perez mencalonkan diri menjadi Wakil Bupati Pacitan." Grup ini diisi 12 anggota. Julia Perez mengklaim didukung 8 partai politik dalam Pemilihan Kepala Daerah Pacitan. Salah satu partai pendukung, Partai Hati Nurani Rakyat, menyatakan, Julia Perez baru sebatas usulan karena bercermin dari elektabilitas yang tinggi. Hanura menyatakan akan mengusung Jupe sebagai calon Wakil Bupati Pacitan mendampingi calon Bupati yang merupakan kader Hanura.

Salah satu partai lain yang diklaim Jupe yakni Partai Amanat Nasional membantah telah mendukung Jupe. Dewan Pimpinan Pusat PAN menyatakan ada oknum di Dewan Pimpinan Daerah PAN yang mengatasnamakan partai tanpa melalui rapat pleno untuk memberi dukungan kepada Jupe