Ibadah Haji Jadi Ladang Pungli

Ibadah Haji Jadi Ladang Pungli, sebagai warga Negara yang pernah mengenyam pendidikan moral pancasila di bangku Sekolah Dasar terasa pilu melihat penomena Praktik korupsi di negeri ini nampaknya sudah sangat akut dan memasyarakat. Korupsi kecil-kecilan seperti pungutan liar (pungli) sudah menjadi hal lumrah untuk dilakukan oleh aparat yang berhadapan langsung dengan masyarakat, bahkan dalam ibadah haji sekalipun.

Di Terminal Haji Bandara Internasional Soekarno Hatta misalnya, akan mudah ditemukan anggota keluarga yang akan menjemput sanak saudaranya terpaksa harus merogoh koceknya untuk diberikan kepada petugas yang tidak bertanggung jawab, itu hanya karena ingin mendapat akses bertemu.


ini ceritanya:
"Berapa Pak? kalau segitu saya sarankan Bapak membawa satu orang saja yang masuk ke dalam," ujar petugas penjaga pintu masuk menawarkan kepada Memed, seorang pria yang akan menjemput istrinya di Terminal Haji, Cengkareng Tangerang, Selasa (15/12/2009).

Memed yang saat itu membawa putri dan keponakannya pun terpaksa hanya diperkenankan membawa satu anggota keluarganya masuk. Untuk masuk ke Gedung Platform, tempat di mana jamaah haji yang baru tiba di Tanah Air bisa ditemui sebelum ke debarkasih, para penjemput memang harus menggunakan kartu pas yang dikeluarkan oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) kabupaten/kota dan Departemen Perhubungan.

Mereka bisa membawa anggota keluarga lainnya masuk jika mereka memberikan tips yang diminta oleh petugas. Ternyata, tidak hanya Memed yang menjadi korban pungli para petugas bandar. Rasa rindu yang mendalam karena telah berpisah dengan keluarganya yang berangkat ke Tanah Suci selama satu bulan lebih membuat keluarga yang ditinggalkan melakukan berbagai upaya untuk bisa bertemu segera.

Padahal, jamaah haji yang berasal dari luar Jakarta biasanya akan diberangkatkan terlebih dahulu di asrama haji masing-masing debarkasih. Di situ keluarga yang akan menjemput bisa bertemu dan pulang ke kampung halaman bersama yang menjemputnya.


Jika praktik korupsi yang kecil seperti ini saja belum bisa diberantas, sulit rasanya pemberantasan korupsi yang didengungkan pemerintah saat ini bisa tercapai. Masyarakat pun akan semakin terbiasa melakukan ini dan korupsi akan membudaya.

Wahh...Kekurangan yang bersifat teknis, dinilai biasa terjadi
Sementara itu Sekretaris Jenderal Departemen Agama Bahrul Hayat menyatakan secara umum pelaksanaan ibadah haji 2009 berlangsung dengan baik. Kekurangan yang bersifat teknis, dinilai biasa terjadi. "Secara umum pelaksanaan ibadah haji cukup baik. Puncak ibadah haji baik. Akomodasi, transportasi, dan katering cukup baik, termasuk masalah pemondokan. Tidak ada yang menolak," papar Bahrul.

Menurutnya, keluhan dari jamaah yang mendasar terdapat di pemondokan yaitu kekurangan air. "Tahun ini tidak banyak keluhan. Hanya tempat-tempat jemuran saja yang dikeluhkan jamaah," tuturnya

Dia menambahkan tindakan kriminal oleh warga Indonesia masih ditemui pada pelaksanaan tahun ini. "Kejahatan masih ada yang dilakukan warga Indonesia namun langsung kita tindak," tandasnya.

Bahrul juga mengeluhkan banyaknya jamaah nonkuota yang mengganggu pelaksanaan ibadah haji. "Kita sudah protes kepada muasasah (pengelola maktab). Solusinya boleh dicari. Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka tidak mendapatkan tiket pulang," terangnya.

Untuk itu, lanjutnya, Depag mengimbau kepada masyarakat untuk tidak menggunakan cara berangkat haji tanpa mendaftar secara resmi karena bisa membahayakan. Saat ini ada sekira 3.000 jamaah nonkuota. Dari jumlah itu ada puluhan yang sampai saat ini belum mendapat tiket pulang

sumber okezone