Suka Melakukan seks dengan binatang

suka Melakukan seks dengan binatang dikenal dengan nama bestialiti. Ketika tindakan atau fantasi seks dengan binatang terjadi berulang kali dan dianggap cara yang eksklusif untuk mendapatkan gairah seks, maka ini disebut zoophilia.

Bestialiti biasanya melibatkan rasa ingin tahu, hasrat untuk mencoba hal baru, atau keinginan untuk melampiaskan nafsu ketika pasangan tidak ada. Zoophilia biasanya melibatkan perilaku yang kejam yang bisa menyakiti binatang.


Melakukan hubungan telepon cabul berulang kali dengan maksud untuk memperoleh kepuasan seksual bisa dianggap sebagai parafilia. Keadaan yang relatif aman dan hubungan yang sifatnya satu arah dari telepon menyediakan suasana yang cukup ideal untuk melakukan masturbasi sambil berfantasi tanpa rasa takut untuk bertatap muka. Ada tiga jenis telepon cabul.

Pertama, si penelpon menyombongkan dirinya dan menjelaskan secara terperinci kegiatan masturbasinya. Jenis kedua, si penelpon secara langsung mengancam si korban (“Aku sedang mengamatimu” atau “Aku akan mencarimu”). Pada jenis yang ketiga, si penelpon cabul mencoba memaksa si korban untuk mengungkapkan hal-hal intim dalam hidupnya. Kadangkala si penelpon menghubungi korban yang sama berulang kali, tetapi seringkali jika si korban tidak mau menunjukkan keinginannya untuk melayani permainannya, maka ia akan mencari korban berikutnya.

Ada beberapa parafilia yang bisa dikatakan relatif jarang, yaitu Apotemnofilia, ketertarikan seksual pada amputasi. Dan Korofilia serta urofilia, yaitu kepuasan seksual yang dihasilkan dari kontak dengan kotoran manusia dan urin. Selain itu ada lagi Klismafilia, yaitu kepuasan seksual yang dihasilkan dari penggunaan enema (suntikan pada bagian usus besar melalui dubur untuk mencuci perut).

Sedang Frotteurisme merupakan rangsangan seksual yang disebabkan oleh gesekan alat kelamin ke tubuh seseorang yang berpakaian lengkap di tengah situasi yang ramai, serta nekrofilia, yaitu rangsangan seksual yang diperoleh dari melihat atau melakukan hubungan seksual dengan mayat.

Tidak begitu jelas apa yang menyebabkan berkembangnya parafilia. Para ahli psikoanalisa berteori, seseorang yang mengidap parafilia mengulang atau meniru kebiasaan seks yang timbul pada awal masa hidupnya. Para ahli perilaku berpendapat, parafilia muncul melalui proses pengkondisian. Objek-objek non-seksual menjadi menarik secara seksual jika mereka berulangkali dihubungkan dengan kegiatan seksual yang menyenangkan. Atau, perilaku-perilaku seksual tertentu (seperti mengintip, memamerkan tubuh, bercinta dengan binatang) yang memperlihatkan kepuasan seks yang intens bisa menyebabkan seseorang memilih perilaku seperti itu.

Penelitian akan hasil dari terapi-terapi ini tidak begitu lengkap, tetapi seringkali tidak berhasil dengan baik. Baru-baru ini, sejenis obat-obatan bernama antiandrogen yang secara drastis menurunkan kadar testosteron untuk sementara waktu telah digunakan untuk mengobati penyakit ini. Obat ini menurunkan gairah seks pada pria dan mengurangi kekerapan imajinasi mental terhadap hal-hal yang bisa membangkitkan birahi.
Ini memungkinkan konsentrasi pada konsultasi tanpa gangguan dorongan parafilia. Perlahan namun pasti bukti-bukti menunjukkan bahwa menggabungkan terapi obat-obatan dengan terapi perilaku bisa jadi efektif.