Pemerintahan SBY Paranoid dan Fitnah

Pemerintahan SBY Paranoid dan Fitnah, Rezim Susilo Bambang Yudhoyono mengidap gejala paranoid dan bertabur fitnah. Mekanisme pengawasan yang disediakan sistem demokrasi sering dicurigai bertujuan menggulingkan kekuasaan.

"SBY menuduh gerakan antikorupsi 9 Desember sebagai makar. Kepala BIN menuduh ditunggangi koruptor, Andi Mallarangeng mencurigai ditunggangi penumpang gelap. Setelah itu, Partai Demokrat menuding dibiayai mantan menteri yang sakit hati," kata Koordinator Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi (Kompak) Fadjroel Rachman di redaksi Lampung Post, Rabu (16-12).
Fadjroel mengunjungi Lampung Post usai menjadi pembicara dalam Seminar Nasional bertema Rekonstruksi pemahaman oposisi, upaya penegasan mekanisme check and balance yang diselenggarakan Forum Komunikasi dan Kerja Sama Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Indonesia. Seminar di Wisma Bandar Lampung itu diikuti 135 mahasiswa dari 25 perguruan tinggi se-Indonesia.

Fadjroel mengungkapkan ia juga dituduh menerima uang dari tiga mantan menteri yaitu Andi Mattalata, Adhyaksa Dault, dan M.S. Kaban. "Karena sekarang banyak yang suka bersumpah termasuk SBY, maka saya juga bersumpah tidak pernah menerima uang sepeser pun dari mereka untuk gerakan itu," kata dia.

Dokumen Darmawangsa

Pada 9 Desember 2009 lalu, elemen mahasiswa dan para aktivis memperingati Hari Antikorupsi Sedunia dengan menggelar unjuk rasa di 33 provinsi. Presiden SBY dalam pidatonya mencurigai gerakan tersebut bertujuan makar. Namun, Fadjroel membantah. "Itu fitnah," ujarnya.

Fadjroel mengatakan tudingan SBY tersebut antara lain didasarkan pada Dokumen Darmawangsa, yang ternyata isinya bohong belaka. Menurut dia, dalam dokumen fiktif setebal tiga halaman itu dipaparkan pertemuan di Hotel Darmawangsa dihadiri Surya Paloh, Suryo Pratomo, Din Syamsudin, Syafi'i Maarif, Jusuf Kalla, dan Prabowo Subiyanto. "Dalam dokumen itu dinyatakan pertemuan akan menghasilkan gerakan massa yang akan diakhiri amuk massa dan penumbangan kekuasaan. Hal ini direspons SBY dalam pidato yang intimidatif dan menekan," kata dia.

Menurut Fadjroel, ketika tekanan dan intimidasi terhadap gerakan antikorupsi dilakukan oleh sistem kekuasaan, dapat disimpulkan rezim tersebut mengidap paranoid. Sementara, ketika tuduhan berdasar pada data yang salah, meskipun bersumber dari intelijen, hal itu sudah menjadi fitnah.

Paranoid berasal dari kata paranoia, yaitu pikiran yang terganggu yang dicirikan kecemasan atau ketakutan yang berlebihan. Pemikiran paranoid biasanya disertai anggapan akan dianiaya sesuatu yang mengancamnya. Jika ditelusuri kembali, bukan kali ini saja SBY dan orang-orang dekatnya bersikap reaktif. Jauh sebelumnya, SBY juga mudah terpancing "keluar kandang" menanggapi manuver-manuver kecil yang bisa diselesaikan pejabat setingkat menter

Hargai Perbedaan
Fadjroel mengatakan pemerintahan yang menganut sistem demokrasi seharusnya menerima perbedaan serta tidak menebar fitnah dan kekerasan. Menurut dia, yang diagungkan dalam demokrasi adalah dialog dan pendekatan, sedangkan yang harus dihindari adalah monolog, kekerasan, dan fitnah. "Sekarang rezim ini melakukan hal-hal yang harus dihindari, yaitu monolog, kekerasan, dan fitnah," kata dia.

Pada Selasa (15-12), Ketua DPP Partai Demokrat Ruhut Sitompul mencurigai dua mantan menteri berkhianat. Keduanya diduga ikut dalam konspirasi menjatuhkan pemerintahan SBY. "Ini info dari BIN," kata Ruhut di Gedung DPR.

Selain Fadjroel, aktivis Kompak Ray Rangkuti juga menilai kecurigaan tersebut berlebihan. "Jangan terus-menerus memproduksi fitnah. Kalau memang ada, sebutkan saja namanya. Kalau terbukti melanggar hukum, tangkap," ujar Ray yang juga Direktur Lingkar Madani